
#Aku_Menemukan_Video_Call_Sxx_di_Gawai_Suamiku (Part-9)
#AMVCSDGS9
Aku masih mengamati dari luar hotel, berusaha menenangkan diri. Lalu aku putuskan untuk mencoba mengelabui Mas Dony. Aku menghubungi nomor telepon suamiku itu.
Tersambung, dan diangkat!
"Hallo, Dek?" Terdengar suara Mas Dony seperti terkejut.
"Hallo, Mas. Keyla sakit, kamu pulang ya? Aku tunggu di klinik Cempaka." Aku ingin tahu apa jawaban Mas Dony saat itu, apakah memilih Sari atau Keyla anakku. Padahal Keyla hanya batuk pilek biasa, namun aku jadikan pancingan untuknya agar pulang bersama denganku ke rumah.
"Iya, Dek. Ini aku langsung kesana."
Aku segera melaju kembali ke klinik Cempaka, agar tak keduluan oleh Mas Dony.
Sesampainya aku di klinik, aku mengambil nomor urut antrian periksa ke dokter anak, dokter yang biasa menangani Keyla. Dan 20 menit kemudian datanglah Mas Dony.
"Gimana, Dek? Udah periksa?" Mas Dony terlihat khawatir.
"Masih tunggu antri, ini kita nomor urut ke-3." Jawabku.
"Oh, ya sudah. Kita tunggu sama-sama. Suhu badannya berapa?"
"36° Mas."
"Sudah kasih penurun demam?"
"Sudah."
Mas Dony tampak khawatir akan keadaan anak kami, Keyla. Dan aku bersyukur, aksi Mas Dony dengan Sari sudah pasti gagal. Karena terlihat dari ekspresi suamiku ini, seperti kecewa tidak jadi berfantasi liar bersama si wanita jadi-jadian itu.
Setelah nama Keyla dipanggil dokter, kami masuk mengikuti perawat.
"Sudah berapa hari demamnya, Bu? Tanya dokter Rina.
"Baru hari ini, Dok."
"Sudah dikasih obat apa?"
"Paracetamol sirup."
"Oh, baik. Ini hanya demam biasa, tapi kalau dalam dua hari, obat yang saya kasih tidak ada perubahan, bawa kesini lagi."
"Oh, iya. Terimakasih, Dok."
"Ini resepnya, untuk yang tablet boleh diulek aja, biar larut sama air."
"Terimakasih, Dok." Mas Dony menjawab semua perintah dokter Rina
Sesampainya di rumah, Mas Dony langsung mengurus Keyla dan menidurkan di kamarnya. Keyla tidak rewel, dia sangat mengerti posisi mamanya.
Selagi Mas Dony menemani Keyla, aku mengirimkan pesan ke nomor Sultan.
[Godain si Sari ya? Aja ketemuan terus selfie bareng. Penting!] Perintahku.
[Gila lu! Udah malem, ah!]
[Plisssssss....]
[Kalau bukan karena sepupu, gak mau nih gue!]
[Thanks dear, gue beliin sepeda lipat incaran lu, deh!]
[Asik, makin semangat. Oke.]
[Inget, gak pake belaian dan gak pake terhanyut suasana.]
[Iya, berisik!] Jawab Sultan akhirnya.
Yessss! Aku berhasil mengirim misiku lewat Sultan. Aku yakin semua akan berhasil sesuai dengan rencana ku. Aku mengintip ke kamar Keyla, ternyata Mas Dony sudah terlelap tidur bersama putri kecilnya.
Sultan berhasil menggoda Sari dan mengajaknya bertemu. Dan Sari sepakat untuk bertemu di hotel tempat yang tadi sudah dipesan bersama Mas Dony. Ternyata Sari memutuskan tetap disana dan tidak pulang ke rumahnya.
Sementara di hotel..
"Hai, Darling. Ayo masuk." Ajak Sari.
"Eh-iya." Sultan mengikuti wanita itu. Sultan terlihat sedikit kikuk, wajar saja, Sari hanya mengenakan lingerie tanpa bra. Sari sangat terlihat seperti wanita yang haus akan belaian, tak malu menunjukkan tubuh yang seharusnya tak layak untuk dinikmati oleh yang melihatnya, seperti sekarang yang sedang dilihat Sultan pastinya.
"Kamu kenapa? Kok lihatin aku segitunya? Aneh ya?"
"Hmmm...nggak sih." Sultan berpura-pura menutupi perasaan kikuknya, lalu sembari menuangkan air di gelas yang tersedia di atas meja. Kamar hotel ini sangat luas, mirip apartemen. Lengkap dengan mini bar, ranjang yang besar, bathub juga luas cukup untuk dua orang yang bisa masuk ke dalamnya.
"Oh, oke. Silahkan diminum, jangan sungkan."
"Kamu minum wine?" Tanya Sultan, karena baru kali ini Sultan melihat langsung wine berwarna jingga itu. Hendak mencicipi minuman berharga mahal itu, Sultan ingat pesan Vera yang tidak boleh berbuat macam-macam.
"Oh, enggak. Asam lambungku bisa naik nanti."
"Lalu, untuk siapa minuman ini?"
"Untuk Dony, tapi dia pulang tadi. Belum sempat kami bersenang-senang." Tampak ada perasaan kecewa di akhir kata-katanya. 'Belum sempat bersenang-senang.'
"Oh gitu. Aku ijin ke toilet sebentar." Sultan segera ke toilet, dan melihat smartphone nya, apakah sudah berhasil merekam. Ternyata masih terpasang merekam, disembunyikannya dibalik jaket yang dikenakan Sultan.
"Cepet amat! Grogi ya?" Ledek Sari, sembari menanggalkan pakaiannya di depan Sultan, yang seorang lelaki singel, meskipun Sultan mengaku lelaki beristri demi cerita yang dikarang Vera, sepupu sekaligus sahabatnya itu.
"Eh, mau kemana?"
"Mau nyemplung ke bathub, sayang aromaterapi nya, buat relaksasi."
"Oh gitu, silahkan."
Sari segera masuk ke bathub yang penuh dengan bunga dan busa sabun, sementara Sultan sibuk menikmati makanan ringan juga softdrink yang tersedia disana.
"Kamu tumben ngajakin ketemuan malam begini? Mupeng ya?"
"Mupeng? Apa tuh?"
"Muka pengen. Hahahahaha" Sari tak tampak malu mengucapkannya.
"Ya elah, emang kalau mau ketemu harus lagi pengen ya?"
"Lha, iya lah! Mas Dony gitu kok." Jawabnya sembari menciprati Sultan dengan air.
"Jangan, ah. Basah nanti aku."
"Gak apa-apa lagi!"
"Aku nggak bawa baju ganti."
"Tinggal suruh orang bawakan baju kok besok pagi, gampang. Gak usah dipersulit."
"Eng.... Aku nggak mau nginep."
"Hah? Terus kesini mau ngapain?"
"Mau ngobrol aja, butuh temen ngobrol sambil ngopi. Gak lebih." Sultan menjawab datar pertanyaan si wanita haus belaian itu.
"Oh begitu, iya ya?"
Hening.
Hampir setengah jam Sari berendam di bathub, lalu segera memakai handukmya dan mengeringkan rambutnya. Wangi semerbak bunga-bunga sangat terasa saat Sari lewat di depan Sultan.
"Sultan..."
"Iya."
"Kamu nggak pengen ini?" Sari membuka handuknya sembari menunjukkan area berbahaya miliknya.
"Eh, ehmmm anu..."
"Kamu kenapa, sih? Mau menolak aku?"
"Bukan. Aku belum siap aja, aku ehmmmm impoten juga kayak suamimu." Sultan menjawab asal, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Serius? Jangan bercanda, ah!"
"Iya, aku serius." Lagi-lagi Sultan berbohong, padahal naluri kelelakian nya sudah hampir membuncah.
"Padahal kamu itu hot, lho! Masa iya kamu impoten?"
"Iya, beneran. Nanti ya tunggu aku sembuh?"
"Hmm, oke deh." Sari mengenakan kembali lingerie nya.
"Aku boleh selfie sama kamu, nggak?" Sultan membuat Sari tertawa geli.
"Hahahaha buat apa, Sayang?"
"Buat koleksi aja, aku suka sama kamu."
"Ya sudah sini." Sari menarik Sultan ke ranjang besar yang ada di ruangan itu. Sari mengambil smartphone nya dan mengabadikan foto dengan gaya mesra, lengkap dengan lingerie nya. Dan terakhir Sari dan Sultan berfoto ria dengan gaya berciuman. Sari mengecup mesra bibir Sultan. Lalu menariknya ke atas ranjang.
"Jangan, Sari."
"Kok jangan? Aku udah nggak tahan, nih."
"Nanti ya? Tunggu performa aku bagus. Malam ini aku nggak bisa, aku harus segera pulang." Sultan bangkit dan berdiri lalu berjalan menuju pintu.
"Jadi kamu mau tinggalin aku malam ini? Sama seperti Dony?"
"Maaf, aku belum siap. Aku pamit ya?"
Sari kecewa, dan menutup lagi pintu kamar hotel tersebut. Terdengar suara teriakan kencang dan segala umpatan didalamnya.
"Sial. Brengsek!"
***************************************
Keesokan harinya, Mas Dony berangkat ke kantor. Keyla sudah sehat, dan tidak mengkhawatirkan untuk ditinggal papanya. Aku sudah meminta Sultan untuk mengirim semua bukti yang kuminta. Ada pesan juga yang dikirim Sultan, agak lucu sih.
[Nih, semua foto dan rekaman yang lu minta! Berikut kecupan mesra dari Sari, awas aja lu tunjukkin ke pacar gue!]
[Oke, thanks dear.]
[Inget, janji lu. Sepeda lipat.]
[Yes, Honey. Kirim nomor rekening lu aja.]
[Ahsiaaaaap. Tau gak lu semalem 'djanggo' gue udah kelabakan nahan diri.]
[Hahahahaha syukurin.] Aku masih meledek Sultan, padahal hatiku kesal juga, Sultan harus berurusan dengan si wanita sundal itu.
[Demi lu, nih. Tanggung jawab, gue udah gak original lagi.]
[Mulus kan? Body goal lu banget!]
[Body goal laki lu, kali!]
Bug! Aku seperti tertampar. Benar sekali, wanita itu tipe Mas Dony. Aku sakit lagi membayangkan hal itu. Apalagi di rekaman suara yang dikirim Sultan menjelaskan bahwa Mas Dony datang jika sedang kepengen. Terbayang olehku, saat aku menolaknya mungkin Sari lah yang selalu dicari suamiku.
Setelah selesai menyimpan semua data dan bukti ke laptopku, aku menutup lagi laptop itu. Aku menerima telepon dari Ibu Mira, pasienku di rumah konseling, tempatku dulu bekerja. Kantor yang berlokasi di sekitaran Rawalumbu, Bekasi itu adalah tempat aku bekerja sebagai konselor pernikahan, terkhusus untuk pasangan yang hendak bercerai. Aku yang menghandle mereka. Namun, ini sudah tahun pertama aku berhenti dari kantor itu. Permintaan Mas Dony agar aku fokus mengurus Keyla.
"Hallo, Bu Mira? Ada apa tumben telepon?"
"Hallo, Mbak Vera. Saya mau ketemuan, bisa?"
"Hmmm, bisa aja sih, Bu. Tapi saya sudah nggak ngantor di RumahCinta lagi sekarang."
"Kok bisa, Mbak Vera? Saya maunya konsultasi sama Mbak aja, nggak mau yang lain."
"Gimana, ya? Saya udah nggak bisa, paling ada karyawan baru yang bisa handle kasus ibu."
"Mbak, saya mohon. Tolong bantu saya, saya akan bayar berapapun tarifnya."
"Bukan soal itu, Bu."
"Lalu?"
"Saya sudah punya anak, masih balita. Kalau ibu bisa datang kemari gak masalah. Saya bisa."
"Oh itu masalahnya, gampang Mbak. Share aja lokasinya. Saya meluncur kesana sekarang."
"Baik, Bu."
"Sampai ketemu ya, Mbak Vera."
"Iya, Bu."
Tidak lama kemudian datanglah ibu yang menelepon tadi. Aku mempersilahkan masuk, terlihat ibu itu mengamati foto-foto yang ada di dinding rumah kami.
"Ini suamimu, Mbak?"
"Iya, Bu."
"Sudah lama menikah?"
"Empat tahun."
"Ya ampun, udah lama juga ya? Berarti kita nggak ketemu juga udah empat tahun ya?" Tanya wanita itu.
"Iya, sudah lama ya, Bu?"
"Iya, Mbak. Eh, ini saya bawakan donat untuk anakmu."
"Makasih, Bu. Seharusnya nggak perlu repot."
"Nggak apa-apa, sesekali."
"Silahkan duduk, Bu."
Akhirnya ibu itu menceritakan bahwa dirinya sudah tidak kuat dengan kelakuan suaminya. Perselingkuhan. Empat tahun lalu pun ibu ini datang untuk konseling bersama suaminya dengan kasus yang sama. Tapi sekarang kasusnya beda, suaminya terkena penyakit kelamin. Menular dan juga berbahaya katanya. Bisa disembuhkan sih, tapi Bu Mira tidak mau mengurusinya lagi. Dengan alasan mengapa harus saat sakit baru suaminya pulang ke rumah. Setelah dua tahun hidup bebas dan menikah siri dengan banyak wanita.
Aku menitikkan airmataku, sebenarnya bukan sedih karena kisah yang diceritakan Bu Mira, melainkan mengingat kebusukan yang dilakukan suamiku juga. Sebagai konselor, aku tak mungkin mengarahkan perceraian. Aku mengatakan kepada ibu itu, bahwa pernikahan itu sakral. Kita sebagi wanita harus mampu menjaga martabat kekuarga juga suaminya. Setelah banyak penjelasan yang kuberi, akhirnya Bu Mira menerima masukan dariku, untuk mengurus suaminya yang sakit. Setelah sehat, baru aku suruh datang lagi. Bu Mira pun setuju, lalu memberikan aku sebuah amplop.
"Ini, Mbak. Biaya konsultasi saya."
"Nggak usah, Bu. Saya kan bukan konselor ibu lagi. Sudah nggak bekerja disana kok."
"Ambil, Mbak. Nanti saya kecewa lho! Lagipula kan memang ilmu yang Mbak berikan sama saya nggak gratis, perlu sekolah supaya Mbak bisa jadi konselor hebat kan?"
"Ah, Ibu bikin saya tersanjung aja." Kilahku.
"Oke deh, Mbak, saya pamit ya?"
"Iya, Bu. Makasih ya?"
"Saya yang makasih."
"Hati-hati, ya, Bu?"
"Iya, selalu berbahagia ya Mbak?"
"Amin."
Dan ibu itu pun mengendarai mobilnya lalu segera melaju. Aku bersyukur, masih ada yang memerlukan ilmuku ternyata. Bukan hanya berbagi ilmu saja, melainkan menjadi sumber penghasilan bagiku. Ternyata masih ada pasienku yang masih ingin mendapatkan konsultasi bersamaku.
Next...
0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 9)"
Post a Comment