Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 8)




#Aku_Menemukan_Video_Call_Sxx_di_Gawai_Suamiku (Part-8)
#AMVCSDGS8

Pagi.

Aku memutuskan bersikap manis pagi ini, sambil memberitahu Mas Dony bahwa surat berharga sudah beralih menjadi namaku. Aku yakin dia akan kaget dan marah, ternyata diluar dugaanku. Justru Mas Dony setuju dengan langkah yang aku ambil.

"Mas, surat rumah dan tanah aku ganti nama jadi atas namaku."

"Kapan? Sudah kamu ganti, atau baru mau, Dek?" Tanya Mas Dony santai sambil menyesap kopi yang kubuatkan pagi itu, untung nggak aku campur racun sianida. Seperti kebanyakan wanita yang melihat kebanyakan korban yang telah disakiti oleh suaminya.

"Minggu lalu, aku minta tolong sama Dea."

"Oh, ya sudah nggak apa-apa, Dek. Toh kita suami istri, itu 'kan bakalan jadi gak kamu dan Keyla." Jawabnya singkat.

"Oh, gitu, ya? Aku pikir kamu akan marah."

"Hahahahaha untuk apa aku marah, Dek? Lha wong kamu istriku. Keyla anakku, apa ada yang salah?"

"Iya, sih. Kalau di sinetron ikan terbang, kebanyakan suaminya marah, Mas."

"Udah, jangan ditonton lagi tuh, merusak pikiran para ibu-ibu." Gerutu Mas Dony.

Padahal belum tahu aja dia, semua kisah yang ditayangkan (katanya) berdasarkan kisah nyata. Dan didominasi dengan kisah perselingkuhan. Dan benar adanya, salah satunya ya ini suamiku sayang, suamiku malang. Aku akan menguasai semuanya. Tak tanggung-tanggung, mobil pun hendak aku ambil alih kepemilikan BPKB nya.

Okelah, mungkin Mas Dony belum sadar akan perbuatanku. Aku mencari jalur lain untuk penyelidikan ku. Aku menemui Sultan, sahabatku yang masih singel. Kebetulan dia masih kerabat dekat dari ibuku. Jadi aku leluasa curhat dengannya, perihal keinginanku untuk menyelidiki kasus Mas Dony ini. Namun aku memberi isyarat agar jangan memberitahukan kepada kedua orangtuaku juga keluarga lainnya.

Sultan awalnya menolak, tapi akhirnya dia iba kepadaku, terutama terhadap Keyla. Secara fisik mungkin aku terlihat sehat, namun psikis ku? Aku hampir gila. Orang yang aku harapkan jadi imam yang baik, justru orang yang paling menjijikan buatku sekarang.

Akhirnya aku memberitahu Sultan untuk berpura-pura menjadi Robert, dan berdalih bahwa memang sengaja memasang foto profil palsu. Akhirnya setelah selesai mengajari Sultan, aku berikan kartu seluler ku untuk dipakai Sultan guna menghubungi Sari.

Tak menunggu waktu lama, Sultan mengikuti aba-abaku untuk menghubungi Sari. Sari pun menerima penjelasan yang sudah kami rangkai itu. Dan malahan semakin heboh memaksa untuk bertemu langsung. Penasaran, begitu kata Sari saat ditanya mengapa begitu ingin bertemunya dengan Sultan.

"Vera, gimana? Ngajakin ketemuan tuh, ah!"

"Ya elah, bilang aja dulu, ada urusan."

"Gue coba."

Sultan mengirim pesan pada Sari.

[Nggak bisa, hari ini ada meeting sama klien.]

[Jam berapa selesai meeting? Nanti aku yang meluncur ke lokasi. Share aja lokasinya.]

Benar-benar wanita sundal ini, serasa seperti seekor gurita, yang ingin mencengkeram semua yang ada di sekitarnya. Maksudnya? Ya itu, melahap semua laki-laki. Aneh memang, tapi ya ada makhluk jenis demikian. Sari, si wanita sundal jelmaan dunia entah berantah itulah namanya.

"Mepet mulu, ah! Gimana, dong?" Sultan terlihat ketakutan saat hendak ditemui oleh si wanita sundal itu.

"Gak apa-apa, pokoknya ikutin aja dulu alurnya dia. Gue yakin, iman lu kuat. Gak akan sampai check-in hotel."

"Busyet. Ngebayangin aja, gue ngeri!"

"Ya, makanya! Kan gue kenal sama lu udah lama. Dan gue yakin lu setia sama si Sinta."

"Kalau Sinta tau gimana? Lu bantu jelasin ke dia ya?"

"Oke, yang penting lu bantu gue aja dulu."

"Baiklah, sepupu yang menyebalkan!" Sultan menarik rambutku pelan.

"Masih aja, kan! Hufth."

"Sebel gue!"

"Kenapa?"

"Laki lu brengsek."

"Sudahlah, hanya Tuhan yang pantas menghakimi dia. Bukan kita."

"Hati lu terbuat dari apa, sih? Kayak salju gitu. Meleleh gue."

"Hahahaha, hati gue berdarah sama ada nanah dikit. Masa kaya gitu dibilang bersalju?"

"Udah, nih gue balas chat dia."

Sultan mengetik pesan lagi pada Sari.

[Nanti aku ada meeting di Kepala Gajah Nias, aku share alamatnya.]

[Apartemen 'kan itu?]

[Iya, klien minta dikunjungi di apartemennya. Nanti jam 4 sore aku selesai meeting.]

[Oke, kita ketemuan di mall nya aja, ya?]

[Oke.]

Tepat pukul 5 sore, Sari dan Sultan ketemuan. Mereka memesan makanan dan minuman, rencananya Sari akan curhat banyak hal padanya. Dan disinilah, kebenaran itu terbuka sedikit demi sedikit.

"Kok, kamu bohongin aku sih?" Tanya Sari perihal akun palsu juga nama palsu yang seolah-olah dibuat oleh Sultan.

"Eng-anu.." Sultan menjawab kikuk.

"Anu apa?"

"Aku nggak mau privasiku diketahui banyak orang di media sosial."

"Oh, gitu. I see."

"Iya, makanya aku langsung kasih tahu kamu."

"Ya, gak apa-apa. Aku mau cerita sama kamu."

"Cerita apa?"

"Tentang aku, lah."

"Kamu percaya sama aku?" Sultan mencoba meyakinkan Sari.

"Ya. Tapi jangan ngobrol disini, takut ada yang lihat dan dengar. Kantorku kebetulan dekat sini juga, pasti banyak karyawan suamiku di sekitar sini."

"Jadi, kemana dong?"

"Apartemenku ada, kita kesitu, ya?"

"Baiklah."

Sari menceritakan awal dia mengkhianati suaminya, saat itu Mas Broto divonis menderita diabetes melitus dan juga pengeroposan tulang. Entah bagaimana, itu mempengaruhi stamina kelelakian dirinya. Bahkan, malam-malam penuh kehangatan pun sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya pengobatan demi pengobatan yang daapt dijalani Mas Broto.

Dulu, sebelum Mas Broto sakit, hubungan di pembaringan suci mereka sangatlah indah. Dua hati saling mencinta menambah kedahsyatan performa di tiap malamnya. Sari tak pernah sedikitpun berpaling ke lelaki lain.

Sampai akhirnya, Sari tak kuat. Maklum, usia Sari masih produktif dan menggebu soal cinta. Belum monopause, dan masih aktif bercinta. Keinginannya untuk bercengkrama pun hilang, seiring dengan perjalanan Sari menemani pengobatan suaminya itu.

Mas Broto pun sadar, tak bisa lagi memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Dan mengijinkan Sari berpacaran dengan lelaki lain untuk memuaskan dahaga jiwa mudanya, namun tidak memilih bercerai. Mas Broto sangat mencintai Sari, makanya tak ingin berpisah.

Sari memiliki kelainan pula dalam hal bercinta, istilahnya hipers**s. Makanya bila seminggu tidak melakukannya, sangat jelas terlihat berantakan alias uring-uringan. Sari mengakuinya pada Sultan, dan menceritakan tentang hubungan gelapnya dengan seorang lelaki yang dikenalnya di akun aplikasi biru. Lelaki itu Dony Sebastian.

Seorang lelaki beristri, bekerja di salah satu vendor perusahaan milik suaminya. Mereka bertemu saat ada meeting di kantor ekspedisi milik suaminya, guna membahas kerjasama untuk jasa pemakaian mobil besar seperti wingbox, colt diesel dan mobil bak lainnya. Karena Dony terlihat macho, akhirnya Sari mencoba stalking akun Dony.

Mulai dari perkenalan di aplikasi biru itulah mereka saling terbuka tentang fantasi bercinta yang diminati mereka berdua. Sari tak malu menceritakan hal itu kepada Dony, sampai terciptalah hubungan terlarang itu.

💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮

Itulah hasil cerita dari Sultan yang kudapatkan. Namun aku mau tetap mengetahui motif lainnya, tak mungkin Mas Dony sekedar melampiaskan keinginan fantasi bercinta dengan Sari. Lalu, bagaimana dengan Mas Broto? Setidaknya dia tahu siapa laki-laki yang menjadi selingkuhan istrinya, bukan? Mengapa dia mengijinkan semuanya?

Aku tak habis pikir, Mas Dony dan Sari sama-sama candu akan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh suami istri saja itu. Dan mengapa sikap Mas Dony sangat menyayangi aku juga Keyla? Menghadirkan sosok Ayah juga suami yang wajib ditiru semua lelaki.

"Dek, Mas kangen nih. Udah bisa, belum?" Mas Dony mengagetkan lamunanku malam itu.

"Eum, belum, Mas."

"Terus kapan, bisanya?"

"Dua minggu lagi, mungkin." Jawabku asal. Sebenarnya nifasku sudah selesai, dan darah kotor sisa kuret pun sudah tidak ada. Namun rasa jijik yang muncul tiap membayangkan tidur dengan lelaki yang sudah berbagi kelamin dengan wanita sundal itu, membuatku mati rasa sementara.

"Lama, ya, Dek?" Mas Dony mulai mendekatiku dan mencium mesra pipiku. Aku paham betul, naluri kelelakian nya menginginkanku malam ini. Tapi maaf, Mas! Aku tak sudi!

"Iya, maaf, ya?"

"Ya sudah, gak apa-apa."

Mas Dony mengeluarkan smartphone miliknya, entah apa yang sedang dilakukannya. Tapi aku pura-pura tak melihatnya. Aku pun pura-pura tertidur, sampai akhirnya Mas Dony ketiduran juga, aku memutuskan untuk bangun dan mengambil smartphone yang sudah diletakkan di atas nakas.

Aku membuka smartphone Mas Dony, terlihat ada chat terakhir dengan Sari. Mas Dony mengatakan ingin bertemu. Melepas dahaga, katanya.

[Sari, besok ada waktu?]

[Ada, kenapa, Mas?]

[Aku mau kamu. Bisa?]

[Bisa, Mas. Mau lingerie warna apa?] Si wanita sundal ini betul-betul gila, sebegitu hausnya akan Mas Dony.

[Merah gak apa-apa. Ada koleksi baru?]

[Ada, Mas. Aku baru belajar tadi. Gaya putri duyung.]

Hufth! Bahkan hendak bercinta pun, mereka memiliki gaya. Astaga, benar-benar wanita dan pria yang sedang bertegangan tinggi.

[Oke, sampai besok di tempat biasa.]

Aku menangis, tapi tak menitikkan air mata lagi. Hanya sesak di dada, tapi tak ku hiraukan. Aku tepis itu semua, aku menahan emosiku dalam-dalam. Aku susun strategi baru, aku menghapus nomor Sari dari smartphone suamiku, namun lagi-lagi Mas Dony tidak merasa ada yang aneh. Sikapnya datar, biasa saja.

Terlihat saat pagi, Mas Dony menikmati sarapannya dengan tidak seperti sedang cemas mengenai nomor dan chat terakhir dengan Sari sudah tidak ada di smartphone nya.

"Dek, malam ini aku lembur. Pulang pagi mungkin, mau ke pelabuhan Tanjung Priok. Ada muatan yang harus aku lihat dan cek langsung ke lokasi. Kemarin soalnya ada kejadian masalah barang hilang setelah sampai lokasi."

"Oh gitu, Mas." Jawabku santai.

"Kamu nggak marah, 'kan?"

"Nggak, lah!"

"Iya, aku takut semakin banyak barang hilang, dan klaim dari perusahaan yang memakai jasa perrusahaanku. Lumayan nominalnya. Kasihan perusahaan merugi."

"Ya sudah lah, nggak masalah buatku."

"Makasih, ya, Dek?"

"Habiskan makananmu, Mas."

"Iya, Keyla mana?"

"Masih tidur, tadi sudah bangun sih, cuma pas aku kasih susu eh dia tidur lagi."

"Oh ya sudah, kalian hati-hati di rumah."

Aku mengantar Mas Dony sampai depan teras, dan mobil pun melaju meninggalkan rumah. Aku lanjutkan merapihkan rumah dan bersiap memata-matai Mas Dony. Aku meniti Keyla pada tetangga sebelah rumahku.

Aku awasi Mas Dony dari luar pelabuhan, aku sangat berjaga-jaga takut kelolosan dari gerak-gerik Mas Dony. Dua jam kemudian Mas Dony keluar dan meluncurkan mobil ke arah Kelapa Gading. Aku mengikutinya lagi dengan taksi tarif bawah.

Mas Dony berhenti di salah satu hotel, setelah memarkirkan mobilnya, tampak seorang wanita seksi menemuinya di lobby sambil mencium mesra pipi Mas Dony. Gatalnya kedua orang itu! Mereka seperti dimabukkan oleh asmara yang sedang bergelora. Bergandengan tangan dan berjalan bersama. Aku tak mengambil lama kesempatan yang ada, buru-buru aku mengeluarkan smartphone dan memotret mereka sebanyak mungkin, juga memotret logo hotel.


Next...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 8)"

Post a Comment