Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 7)




#Aku_Menemukan_Video_Call_Sxx_di_Gawai_Suamiku (Part-7)
#AMVCSDGS7


POV1
Mas Dony

2010

Saat itu aku baru pertama kali bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi yang akhirnya menjadi perusahaan terakhir untukku bekerja sampai sekarang. Aku berteman dengan supir-supir, admin sales juga staf lainnya. Awal aku memulai pekerjaanku adalah sebagai staf operasional, yang mengontrol supir dan memonitor mereka dalam perjalanan, baik memuat barang ataupun membongkar muatan tersebut. Bahkan mereka harus sampai tujuan dengan selamat pun, itu termasuk tanggungjawab ku.

Beberapa bulan bekerja disana dan kenal akrab dengan supir, membuatku terjebak dalam kebodohan. Memang tidak semua supirku yang berbuat demikian, namun tak jarang juga ada mereka yang seperti itu. Supir di tempat aku bekerja, sering meledekku. Oh ya, aku masih lajang saat itu.

"Ya elah Mas Dony, masih disegel?" Ledek Mas Supriyanto, supirku asal Jember.

"Iyalah! Masih disegel."

"Ora percoyo! Masa kalah sama saya, Mas!"

"Maksud sampeyan, piye?"

"Lha, saya aja supir, jelek dan penghasilannya pas-pasan. Masih ada aja cewek yang mau saya tidurin." Mas Supriyanto terlihat tak malu saat menjelaskan yang seharusnya menjadi rahasia baginya.

"Ngawur, ah! Bahas yang lain aja, oh ya, mana surat jalanmu? Wis rampung toh?"

"Wis, Mas. Iki surat jalan e."

"Ada masalah, nggak?"

"Nggak ada, Mas. Cuma ya biasa, pas bongkar muatan, orang gudang nggak mau bongkar kalau saya belum kasih duit."

"Ya sudah, gak apa-apa. Mana catatan pengeluaran mu? Biar saya kasih ke Bulan."

"Ini, Mas."

"Oke deh, terimakasih. Mas Supri boleh pulang, tapi nanti balik lagi malam, ya? Jadwal shift kerja malam kan hari ini?"

"Iya, Mas. Saya mau ke bengkel dulu tapi, ini kemarin ada yang nyenggol spion, jadi mau beli yang baru. Susah kalau di jalan pakai spion yang ini."

"Ya sudah, nanti pakai bon, ya? Biar di ganti kantor."

"Siap 86, Mas. Oh, iya inget tuh tadi kata saya."

"Apaan, Mas?"

"Laki-laki harus punya pengalaman, biar nanti pas nikah kalau mau main bola nggak malu-maluin depan istri."

"Auk ah gelap! Udah pulang sana!"

Begitulah Mas Supriyanto, kalau ngobrol sama dia, pasti dibumbui suruh belajar dan belajar. Mending kalau belajarnya yang benar, ini menyimpang!

Aku kembali ke kantor, kebetulan satu ruangan dengan Bulan, si admin cantik khusus pemasaran dan operasional. Parasnya yang ayu, dan gaya bicaranya yang seolah membuat jiwa kelelakian setiap karyawan berjenis kelamin laki-laki pasti berdesir.

"Oi, Lan."

"Kenapa Mas Dony? Ada surat jalan lagi? Atau mau kasih invoice?"

"Dua-duanya, nih." Sambil menyerahkan amplop coklat yang berisi surat jalan pengiriman obat nyamuk ke daerah Tangerang, beserta invoice yang telah ku buat.

"Oke, nanti diproses. Ada lagi, Mas?" Bulan seolah sadar, aku memperhatikan roknya.

"Eh, i-iya. Udah, itu aja." Jawabku asal dan langsung pamit ke meja kerjaku. Aku berdesir kembali.

Tiap memandang Bulan, memang jiwa lelakiku muncul. Wajar saja, rok pendek yang dipakai beserta kemeja berenda rendah plus tatanan wajah cantik Bulan, sangat mempesona. Andai aku bisa memilikinya. Ah, Sial!

"Will, ngapain sih, lu? Serius amat!" Aku mendekat ke arah Willy, rekan kerja di sebelah mejaku.

"Biasa, ada koleksi terbaru." Jawabnya terlihat asyik, tanpa melihat ke arahku.

"Koleksi apaan? Profil vendor baru, ya?"

"Bego banget, sih lu! Masa iya bagi gue, profil vendor itu asyik untuk ditonton?"

"Jadi, apa dong?"

"Gue kirim deh ke smartphone lu. Buka aja nanti."

"Ya udah." Aku duduk di meja kerjaku sembari merapihkan surat jalan untuk supir yang shift siang nanti."

"Udah, tuh. Buka aja!" Willy menunjuk ke arah smartphone nya, memberi kode telah selesai mengirimkan video yang dimaksud.

Aku mengunduhnya, dan akhirnya sangat kaget. Karena video itu adalah video panas si artis yang viral tentang skandal mesumnya bersama istri orang yang juga sama-sama artis.

"Ya elah, film panas?"

"Iyalah, emang film apa mau lu?"

"Males nonton ah. Mending gue hapus."

"Jangan! Itu gaya baru, lu pelajari dulu, baru nanti lu hapus. Biar gak monoton, cuy!"

"Apaan sih, lu? Ngawur aja!"

"Masih segelan emang?"

"Siapa?"

"Elu lah, bedul!"

"Iya lah." Aku jawab dengan tegas. Ya memang aku masih bersegel dan bergaransi, belum ada aktivitas di luar jalur bersama perempuan saat itu.

"Norak! Pacaran kenapa!"

"Ngabisin duit!"

"Ya elah, yang gratisan banyak. Pacarin aja, modalin mie ayam sama es teh manis aja kalau mau ngapel, pulangnya lu rayu, deh!"

"Emang lu sama Chika kayak gitu?"

"Iya lah, rugi dong gue kalau nggak disikat!"

"Kasihan lah, bego!" Aku kesal, karena merasa Willy hanya ingin mempermainkan Chika.

"Tenang aja, gue pasti nikahin si Chika. Cuma, nggak bisa bohong lah, kalau lagi berduaan pasti keinginan itu muncul. Toh juga nggak ada penolakan."

"Maksud lu, si Chika mau juga?"

"Jelas! Kan dia cinta sama gue! Hahahaha"

"Sontoloyo! Udah ah, gue mau ke toilet dulu. Kebelet."

"Halah, udah kebelet aja lu! Belum juga mulai. Hahahaha"

"Apaan sih, lu! AC nya dingin."

"Belum juga lu tonton tuh film. Atau lu mau nonton di toilet, ya?"

"Gelo lu! Nih, gue tinggal smartphone gue!"

Aku menuju toilet, dan geleng-geleng dengan kelakuan si Willy. Bisa-bisanya di jam kerja, nonton video panas. Mending minum coklat panas sembari cek email kan seharusnya?

Dirumah, aku kembali penasaran dengan video itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menontonnya. Benar saja, video panas itu benar-benar diluar posisi seharusnya. Posisi yang dilakukan oleh suami istri pada umumnya. Istilah posisi misionar*s kalau kata si Willy. Aku pernah sih nonton video panas, waktu SMA. Itu juga rame-rame, sama anak laki-laki lainnya.

Balik lagi ke video, di video itu si laki-laki tidak di posisi nya dan si perempuan juga tidak di posisinya. Paham nggak? Kalau nggak paham, biarkan saja. Cukup aku yang menyaksikan dan menyimpannya di memori otakku. Yang pasti beda dari yang biasanya.

Menyebalkan, belum memiliki pacar dan tidak bisa menyalurkan naluri lelakiku. Aku coba mengirim pesan ke Bulan, awalnya iseng aja.

[Bulan, udah tidur belum?]

Aku melihat di kontaknya sedang online, pasti dibalas. Dan benar saja, langsung dibalas kilat. Kayak emak-emak di KBM yang sering komentar "next, kilat."

[Belum nih, Mas. Kan besok hari libur.]

[Oh iya, besok Sabtu, ya?]

[Jomblo sih, ya? Jadi nggak tahu hari hehehehehe]

Sial! Bukan cuma Willy dan Mas Supriyanto yang meledekku, si Bulan juga ternyata memperhatikanku juga yang memang jomblo.

[Biarin jomblo, asal high class!] Aku terkekeh saat menulis 'high class'.

[Iya deh, samaan. Kita sama-sama jomblo hahahahaha]

'Bulan jomblo? Bisa dong didekati.' pikirku dalam hati.

[Jalan yuk?]

[Besok?]

[Iya, lah. Mau nggak?]

[Boleh, Mas jemput ke kost ku?]

[Iya, jam 9 pagi aku sudah sampai di kostmu ya?]

[Oke, sampai besok.]

[Oke, Sayang.] Aku mencoba merayunya.

[Sayang? Hahahaha oke sayangku]

Ternyata Bulan menyambut umpanku, dan sudah bisa aku pastikan beberapa bulan ke depan, aku akan menaklukannya.

Keesokan harinya...

"Hai, kamu cantik banget."

"Gombal! Kita mau kemana nih, Mas?"

"Ke hotel." Jawabku secara spontan tanpa diayak lagi. Dan aku terkaget saat sadar akan ucapanku.

"Hmmm...."

"Eh, jangan salah paham. Maksudku kita karaoke di hotel. Disana ada mini cafe, jadi bukan di kamar hotelnya."

"Oh, Mas Dony pernah kesana?"

"Nggak, tadi aku tanya Willy."

"Mas Willy?" Terlihat Bulan mengernyitkan dahinya.

"Iya, ayo kita berangkat!"

"Sebentar, aku kunci pintu kamar dulu. Tunggu aja di teras ya?" Bukan meninggalkanku selama beberapa menit.

Dan kami pun menghabiskan seharian penuh bersama. Karaoke, makan berdua layaknya orang pacaran juga nonton di bioskop. Bahkan saat di bioskop, sering Bulan terlihat spontan memelukku. Maklum, aku mengajak menonton film horor. Menurut Willy, sang master dalam percintaan, perempuan itu senang diajak nonton, bakalan romantis.

Benar, Bulan spontan bilang, "Mas, serem banget, ya? Aku jadi ngumpet melulu nih dalam pelukan kamu."

"Gak apa-apa, peluk beneran juga."

"Ish, genit!"

"Yeee, kan belum ada yang punya."

"Iya sih, kalau aku yang memiliki hatimu, gimana?"

"Maksud kamu?"

"Iya aku suka sama kamu, Mas."

"Serius? Aku juga suka sama kamu, Lan." Balasku, dalam hatiku senang bukan main. Bayangkan saja, aku mendapatkan hati si wanita seksi di kantorku.

"Jadi?"

"Kita pacaran."

Terlihat Bulan tersipu malu, dan tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipi ku.

Cup!
"Bulan?"

"Hehehehe, maaf, Mas."

"Ulangi lagi, dong!"

"Ish, ganjen!"

"Yeeee, tadi gak pakai aba-aba."

"Nggak ada ulangan, nanti dicoba kembali."

"Yah, nanggung amat, Beb."

"Beb?"

"Iya, mulai sekarang aku panggil kamu Beb."

"Oke, Beb."

Dua bulan kami pacaran biasa saja, pulang dan makan siang bersama. Kadang aku menjemputnya menggunakan motorku. Tapi lebih sering Bulan berangkat ke kantor sendiri, karena lebih dekat jaraknya.

Willy selalu menggodaku.

"Gimana? Udah pecah telor?" Godanya.

"Apaan, sih!"

"Yaelah, berbagi info dong. Masa berbagi muatan doang!"

"Hush! Gundulmu!"

"Ada rambutnya gue, Bro!"

"Gue masih biasa aja, cium pipi, kening dan salim tangan."

"What? Salim tangan? Bahlul, Ente!"

"Iya, ada yang aneh?"

"Ya aneh lah, Pak Lurah!"

"Apa yang aneh?"

"Emangnya lu bokap nya dia?"

"Hahahaha gak apalah, kan bakalan jadi calon imamnya Bulan."

"Auk ah! Dramatis banget kisah percintaan lu!"

"Santai aja, Bro. Ada waktunya."

"Nah, gitu dong! Gue kasih nanti peluru nya. Selow!"

"Peluru?"

"Pengaman, maksud gue."

"Oh, itu mah gue bisa beli dewek kali!"

"Lha, ini lain dari yang lain. Anti bocor, aman dan terjamin. Ada sensasinya juga pas main bola."

"Hahahahaha iya dah, Master!"

Aku menemui Bulan, hendak menyerahkan surat jalan dan berkas lainnya. Sambil menggoda pacarku semata wayang itu.

"Beb, malam Minggu besok kita ke Puncak, yuk?"

"Puncak Pass?"

"Iya."

"Mau nginep?"

"Iya, kalau gak kemaleman ya pulang. Kalau harus nginep juga gak apa-apa. Nanti kita ke Taman Bunga, 'kan kamu bilang mau kesana."

"Ya udah, Mas. Atur aja asal waktunya cocok."

"Oke, nanti makan siang nggak bareng dulu, ya? Aku mau ke bengkel, mobil wingbox yang dipakai Pak Yono mogok katanya. Mau cek ke lokasi."

"Oke, hati-hati, Sayang."

"Oke, Honey."

Aku pun bergegas ke lokasi dimana mobil Pak Yono mogok. Benar saja, terlihat Pak Yono dan beberapa montir sedang memperbaiki mobil itu.

"Pak, gimana? Nggak bisa jalan dong, ya? Mana ini barang ditungguin."

"Kata montirnya, ini agak lama, Mas. Ada onderdil yang mesti dibeli dulu. Dan adanya hanya di pusat onderdil di Glodok."

"Hmm, coba saya telepon supir lain. Ada yang standby nggak ya mobil?" Tanyaku.

"Ada sih, Mas Supriyanto. Coba aja hubungi."

Setelah selesai menghubungi Mas Supri, akhirnya aku mengerahkannya untuk membawa mobil pengganti supaya barang tetap kami kirimkan meskipun agak telat.

************************************

Sabtu yang dinanti pun tiba, akhirnya aku dan Bulan menuju Puncak, Bogor.
Bulan terlihat sangat senang, entah senang karena akan liburan atau senang yang seperti aku bayangkan. Sesuai himbauan Willy, sahabat plus master percintaan bagiku.

Setelah tiba di lokasi, kami putuskan untuk makan siang lalu lanjut ke tempat wisata. Cuaca yang dingin juga kondisi hujan disana menambah membara gelora di dalam dada ini. Bulan pun terlihat sangat menarik perhatianku, cantik dan ya kalian tahu lah maksudku!

"Beb, gimana nih? Hujan pula. Malah kita naik motor." Aku berpura-pura seolah ingin pulang padahal hatiku berencana lain.

"Ya sudah, kita nginep aja, Mas!"

"Yakin?"

"Iya, gak apalah. Semalam ini, kan? Besok juga pulang."

"Kamu bawa baju ganti?"

"Bawa, kamu?"

"Kayaknya ada di jok motor. Ya sudah kita cari hotel aja sekarang."

Akhirnya kami mendapatkan hotel bintang dua, lumayan lah. Ada bathub, TV, AC dan air panas. Setelah masuk ke kamar, aku hendak menyuruh Bulan mandi. Namun apa yang terjadi? Justru Bulan mengajakku turut serta. Aku kaget, tak menyangka pacarku ternyata menginginkan aku juga.

"Ayo, Mas. Bareng aja!"

"Hah?"

"Iya, ayo." Bulan membuka pintu kamar mandi dan tidak menutupnya. Aku justru pura-pura menolak, hingga akhirnya aku pun tak mampu menolaknya.

Sambil menggodaku, "Sini, Mas."

Seperti terhipnotis, aku menurutinya.

Dan kami pun akhirnya, main bola. Memasukkan bola ke gawang untuk pertama kalinya, namun perasaanku Bulan sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Karena terlihat dia tak canggung sedikitpun, berbeda denganku yang sangat canggung. Justru Bulan yang selalu mengarahkan ku.

Saat aku merebahkan tubuhku di kasur, Bulan menggodaku lagi.

"Mas, lagi yuk?"

"Lagi? Kamu masih mau?"

"Iya, masih. Habisnya dingin."

"Aku nggak punya pengaman, Beb."

"Aku bawa, kok!"

Bulan mengambil sekotak pengaman yang bermerk Sortila, yang sering tampil di TV.

"Nih, Mas!"

Dan sudah bisa dipastikan, kami bermain bola lagi. Sungguh Bulan seperti menghipnotis aku malam itu, hingga aku kelelahan. Bayangkan saja, kami mencetak gol sampai enam kali.

Akhirnya, Bukan buka suara.

"Mas, aku sudah tidak suci lagi. Dan bukan sama kamu, kok."

"Lalu?"

"Apa kamu masih mencintaiku? Stetalh kamu tahu aku tidak suci lagi?"

"Aku mencintai kamu, Bulan. Apapun yang terjadi, tak akan merubah perasaanku." Aku memeluk Bulan erat, kami sedang di mabuk cinta.

Aku tidak peduli meski Bulan sudah tidak suci lagi. Yang pasti aku mencintainya, dan dia mencintaiku. Itu sudah menjadi keputusanku. Toh dia tidak hamil.

"Bulan, kok kamu paham cara-cara main bola tadi? Seperti sudah mengerti sekali. Maaf ya?"

"Iya, Mas. Aku punya koleksi video dan sering melihatnya, lalu aku akan praktekkan dengan pacarku. Maaf, ya, Mas? Tapi aku harus jujur sama kamu."

"Tentang apa?"

"Aku, hmmmm...."

"Apa?"

"Aku hyper, Mas."

"Apa itu?"

"Jadi misal yang normal sanggup main bola paling banyak dua kali, aku bisa kuat sampai sepuluh kali, Mas."

Pantas saja, malam ini kami bisa mencetak gol sebanyak enam kali.

"Hmmm, ya gak masalah buatku. Selagi aku bisa membuatmu senang."

"Makasih, Mas. Tapi kamu hebat, hanya kamu yang kuat, Mas."

"Maksud kamu?"

"Yang lain, tidak ada yang bisa. Hanya kamu. Apa kamu hyper juga?"

"Entahlah."

Dari kejadian itu, akhirnya aku makin intens bertemu dengan Bulan dan check-in di hotel saat liburan bersamanya. Aku sangat menikmati kedekatan ini. Bahkan aku berjanji akan menikahinya kelak. Siapa yang akan menolak pesona Bulan? Gadis cantik dan menarik bagi mata lelaki yang melihatnya.

Kami sering menonton koleksi video panas terbaru bersama lalu mempraktekkannya. Bahkan segala jenis posisi baru pun kami formulasikan dengan cara kami sendiri. Pokoknya Bulan bagiku adalah pelega dahaga yang ada di naluri lelakiku.

Sampai suatu hari, Bulan memutuskan resign dari kantor tanpa sepengetahuanku. Aku sangat kaget, dan menxoba meneleponnya namun tidak aktif. Hanya aplikasi biru lah yang mampu menghubungkan kami kembali. Dan kucoba mengirimkan pesan padanya.

[Kamu kemana? Kok nggak aktif nomornya?]

[Aku di kampung, Mas.]

[Dimana kampungmu? Aku mau menyusul kamu.]

[Nggak usah, Mas. Kita nggak akan ketemu lagi. Maafin aku ya?]

[Apa maksud kamu?]

Setelah itu, aku tak bisa lagi mengirim pesan. Ternyata aku diblokirnya. Aku pun menyuruh Willy untuk menyelidiki. Karena hanya dia yang bisa melihat status Bulan di aplikasi biru tersebut.

Tiga hari kemudian, Bulan memposting foto pernikahannya. Willy menunjukkan foto itu kepadaku, sungguh sedih dan perih hatiku melihatnya. Justru sedang hangatnya hubungan aku dan Bulan, mengapa dia tega meninggalkan aku?

Hari-hari aku lewati dengan kebencian mendalam akan sosok Bulan. Tega meninggalkan aku, setelah berhasil membuatku candu akan kehadirannya. Candu akan pesonanya, candu akan cintanya, aku di mabuk asmara olehnya dan berhasil membawaku ke puncak luka.

Luka yang mengaga, sehingga aku benci terhadap perempuan cantik. Sampai akhirnya aku menjadi laki-laki yang mempermainkan hati perempuan. Aku gonta ganti pasangan dalam sebulan, bahkan ada yang tidak sampai sebulan.

Hingga label 'playboy' mendarat padaku. Bagaimana tidak dicap demikian? Semua perempuan yang aku pacari pasti aku ajak tidur, lalu aku putuskan. Sampai akhirnya aku bertemu Vera, wanita cantik yang berhasil memulihkan pikiranku tentang cinta.

"Kamu harus menjaga wanita, Mas. Kita belum halal, jadi jaga aku sampai watu itu tiba ya?"

"Hmm, maafkan aku."

"Bukan aku tidak menginginkan ini semua, Mas. Tapi, nikahilah aku. Mintalah restu pada ayahku."

Itulah kata-kata yang membuat aku mantap untuk melamar dan menikahinya. Seorang konselor, perempuan yang tangguh dan cerdas yang akhirnya menjadi istriku.

Next...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 7)"

Post a Comment