Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 6)




#Aku Menemukan Video Call Sxx di Gawai Suamiku (Part-6)
#AMVCSDGS6

💮💮💮💮💮💮

Sudah seminggu mertuaku disini, akhirnya mereka memutuskan kembali ke kampung. Dan aku leluasa memulai penyelidikan ku kembali. Ku buka kembali smartphone ku, dan ku coba menghubungi Sari melalui aplikasi hijau milikku. Sebelumnya, aku memasang foto profil wajah Robert. Tadinya, aku mengkosongkan foto profil, guna memprivasikan akun tersebut.

[Hai, Sari. Lagi ngapain kamu?]

[Hai, Robert. Aku lagi mau jalan ke kantor.]

[Oh, kantor kamu dimana?]

[Di Kelapa Gading, PT.Elang Terbang]

[Itu usahamu?]

[Perusahaan milik suamiku, Mas Broto. Tapi sekarang aku yang ambil alih kepemimpinannya. Karena suamiku sakit.]

[Oh, keren dong ya?]

[Keren apanya?]

[Keren aja, istri bos ekspedisi.]

[Nggak keren lah, IMPOTEN.] Ada penekanan di kata 'impoten'.

[Kan kamu punya pacar?]

[Udah dua minggu pacarku nggak bisa dihubungi, terakhir dia marah. Ah, sudahlah. Malas bahas dia.]

[Hmmmm, kalau dekat sama aku mau?]

[Tergantung.]

[Tergantung apa?]

[Ukuran kamu lah, hahahahaha]

Astaga, wanita sundal. Masih siang begini sudah bahas 'ukuran'. Menjijikan sekali wanita sundal ini!

Aku membalas dengan nada seolah benar aku pun haus akan belaian.

[Aku pastikan, ukuranku lebih besar dari pacarmu.]

[Serius kamu?]

[Iya lah.]

[Oke, kapan kita ketemuan?]

Berani sekali wanita ini, baru berkenalan mau mengajak ketemuan. Aku tak langsung membalasnya. Aku menggantungkan pertanyaan Sari, si pelakor yang bukan gadis itu.

Aku memikirkan upaya apa lagi yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan notaris hari ini, kebetulan ada teman yang buka kantor notaris. Aku hendak menanyakan perihal aset rumah dan tanah yang atas nama suamiku.

"Dea, nanti bisa ketemu jam berapa?" Tanyaku pada sahabatku, Dea.

"Sore aja ya, Ver? Gue masih mau ke Priok dulu, ada klien belum rampung."

"Oh, oke. Kita ketemu di kantor lu atau dimana nih?"

"Gimana kalau ketemuannya di Bekasi Cyber Park aja? Sambil makan malam, lumayan ada live music nya."

"Oke deh, jam 5 gue dah sampai sana ya?"

"Oke, Ver. Hati-hati ya nanti. Naik taksi online kan?"

"Iya, gue masih belum bisa bawa mobil sendiri."

"Oke deh, see you, Darling."

"Sip."

***********************************

Tepat pukul 5 sore aku tiba di lokasi janjian dengan Dea. Aku menuju foodcourt Bekasi Cyber Park Mall. Kebetulan Keyla belum aku beri makan, segera lah menuju KonFoi Chicken. Belum lama aku menyuapi Keyla makan, smartphone ku berdering.

"Ya, De. Udah dimana?"

"Gue di toilet nih, bentar lagi naik."

"Oke, gue di lantai 2 ya? Biasa di KonFoi Chicken."

"Oke."

Sambil membersihkan mulut Keyla yang belepotan karena makan, aku mengalihkan pandanganku ke salah satu meja disana. Astaga! Ada Sari disana, dengan laki-laki lain. Apa iya pacar lainnya? Segera aku mengambil kembali smartphone ku untuk mengabadikan foto kemesraan mereka. Bagaimana tidak mesra, si wanita sundal itu terus saja bergelayut manja layaknya pengantin baru.

Tak ingin diketahui oleh Sari, aku pun pindah lokasi ke lantai 3. Aku pun lekas mengirimkan pesan pada Dea, agar langsung menuju ke lantai 3. Ku gendong Keyla, dan berusaha berjalan agak mundur perlahan.

"Dea....." Panggilku kepada sahabat yang sudah ada di depanku.

"Oi, Ver! Sini." Kami pun cipika-cipiki sejenak melepas rindu, sejak lima tahun lalu kami baru ini bertemu kembali.

"Long time no see ya? Apa kabar lu?"

"Iya, terakhir 2015 ya waktu kalian ke Bandung?"

"Iya, kan lu ngundang gue di pernikahan kalian."

"Iya, gue jadi benci kalau ingat itu lagi." Terdengar kebencian yang dahsyat ketika kami membahas pernikahan Dea dan Surya. Aku dengar mereka baru saja bercerai, dengan alasan Dea tak kunjung hamil setelah hampir 5tahun menikah.

"Yang sabar ya, Say?"

"Gue udah move on kali," kilahnya.

"Are you serious?" Godaku datar sembari menyubit lengannya.

"Yes, darling."

"Ah, ora percoyo! Sampeyan cinta betul sama Surya!"

"Gue dah dapet pengganti Surya kok."

"Syukurlah, beb."

"Eh, iya, mau cerita apa sih? Tumben ngajakin meet up? Seserius itukah?"

"Iya, sangat serius. Gue juga bingung mau mulai dari mana. Andai ada emak KBM, gue mau minta ceritain dari awal, Say. Puyeng kalau harus mulai dari awal sampai detail."

"Astaga, grup aplikasi biru yang tempat menulis dan tempat menampung curhatan emak-emak yang bisa bikin viral itu?"

"Iya, hehehehe"

"Lu ikutan gabung juga?"

"Iya, suka iseng ngintip aja."

"Ah, masa! Jangan-jangan lu salah satu emak yang suka curhat tapi belepotan ya?"

"Udah ah, ngalor ngidul aja nih."

"So, back to the topic. What's your problem, Honey?"

"Jadi gini, gue mau balik nama sertifikat rumah. Bisa bantu? Jadiin nama gue aja, atau Keyla. Bisa?"

"Keyla mah nggak bisa, Say. Tapi kalau nama lu bisa."

"Harus ada persetujuan Mas Dony?"

"Iya."

"Kalau misalnya tanpa dia, bisa?"

"Bisa aja, gue bantu. Asal alasan lu jelas untuk kasus ini."

"Gue nggak mau menderita kalau akhirnya berpisah sama Mas Dony. Makanya gue mau ambil alih aset rumah dan tanah. Mobil biarlah nama dia."

"Bisa aja sih, tapi kenapa kok lu sampai berpikiran begitu?"

"Panjang ceritanya, Say. Intinya gue minta bantuan dirimu ya? Please."

"Oke lah, Darling. Sesama wanita gue akan support lu. Asalkan demi kebaikan lu dan Keyla. Apapun masalah lu dan Dony, itu bukan urusan gue. Gue cuma bisa mendoakan untuk keharmonisan rumahtangga kalian."

"Tumben, panjang amat kalimatnya!"

"Kalo lagi eling, pas dapet ilmunya ya gitu, bercuit terus."

"Hahahaha.. dasar!"

"Ya sudah siapkan aja KTP, NPWP dan KK kalian berdua. Nanti surat-surat biar gue yang urus."

"Makasih ya, De? Lu baik banget."

"Sama-sama. Gue nggak mau lu bersedih kayak gue."

"Trims, Beb. Gue laper nih, pesen makan, yuk!" Ajakku.

"Oke. Seperti biasa ya, nasi goreng dan es teh manis. Menu jaman kuliah."

"Siap."

Setelah sepakat untuk membantuku dalam pengurusan balik nama aset rumah dan tanah, aku putuskan pulang ke rumah. Keyla anakku terlihat lelah.

"Ma... Eyla ape." Ucapnya sembari memegang kedua pipinya dengan ekspresi yang menggemaskan. Hanya Keyla satu-satunya harapanku untuk selalu berbahagia.

"Iya, kita pulang ya? Mama pesan taksi online dulu."

"Aik embim ya, Ma?"

"Iya, Sayang."

"Yeeeeee.... Acik."

"Keyla nggak boleh cengeng ya?"

"Iya."

*************************************

Keesokan harinya, aku mempersiapkan segala persyaratan yang diperlukan Dea. Setelah Mas Dony berangkat ke kantor, aku mengirimkan berkasnya lewat kurir ekspedisi jelajah. Ku raih smartphone ku dan masuk kembali ke akun fake aplikasi biru yang ku buat.

Aku mencoba memasang status disana untuk memancing si wanita sundal.

[Ada yang bisa menemaniku kesepian ku di malam ini?]

Aku biarkan status itu, menunggu komentar dari pancingan umpanku. Dan benar saja, dalam 15 menit, wanita sundal itu sudah hadir disana.

[Andai aku tahu keberadaanmu dimana, sudah ku pastikan ada disana.]

Aku tak membalasnya, karena pasti ujungnya dia akan menanyakan dimana keberadaanku, si Robert fake ini. Tak lama kemudian, ada chat masuk di inbox dengan caption 'Jika kamu sepi, lihatlah video ini.'

Menjijikan sekali, video dimana wanita itu sedang mandi namun dengan gaya seolah sadar kamera dan bersikap centil seolah merayu penonton yang sedang melihat gerakan mandi miliknya. Full body! Dengan bathub dan hamparan bunga-bunga di dalamnya. Sungguh, menjijikan!

Wanita sundal ini sungguh haus akan belaian. Ku akui, wajah cantiknya memang membuat para kelaki pasti akan tergoda. Jelas, seksi dan menggairahkan. Itulah gambaran Sari, di mata para lelaki yang sama gilanya dengan dia.

Ku balas dengan nada sindiran.

[Itu dimana?]

[Ini di hotel, saat aku menyewa kamar untuk bercumbu mesra dengan pacarku, sayangnya dia tidak datang. Jadilah aku yang membuat video ini. Seharusnya kami berdua pemeran di video tersebut.]

[Maksudmu?]

[Iya, aku sudah berlatih untuk gaya baru malam itu. Tapi dia tidak menepati janjinya untuk menemaniku.]

[Hmmm, andai aku bisa menggantikan dia.]

[Hahahaha. Tak akan ada yang bisa menggantikan posisinya.]

[Aku bisa memuaskanmu.] Aku mengetik asal, dan hampir membuatku muntah saking mualnya. Membayangkan saja aku muak!

[Tergantung ukuran, kan aku sudah pernah kasih tahu kamu.]

Aku mematikan smartphone ku, aku kembali menangis. Wanita itu mampu tergila-gila dengan membayangkan 'ukuran' suamiku. Gila! Memang sudah gila di wanita sundal itu. Segera aku mengaktifkan kembali smartphone ku dan menelepon Mas Dony.

"Hallo, Mas?"

"Ya, Dek. Kenapa? Tumben nelpon?"

"Kamu nggak lembur, 'kan?"

"Nggak, Dek. Kenapa?"

"Langsung pulang ke rumah ya? Aku mau kamu menemani kami."

"Tumben bicara begitu?"

"Iya, pokoknya pulang langsung ya?"

"Iya."

"Mau dimasakin apa?"

"Pecel lele aja, Dek. Udah lama kamu nggak bikin itu. Sambel pecel mu kan enak."

"Ya sudah, aku tunggu di rumah ya?"

"Oke, i love you."

Aku matikan ponselku, dan menutupnya. Aku mencoba bersikap biasa untuk hari-hari ke depan. Ada sesuatu yang ku rencanakan.

Sore sebelum maghrib, Mas Dony sudah tiba di rumah. Tampak bahagia sambil menggendong Keyla.

"Hallo anak papa yang cantik."

"Papa....." Teriak Keyla.

Aku melihat mereka tampak bahagia, tapi tidak denganku. Aku belum bisa tersenyum, pedih. Pedih sekali aku rasa saat melihat Mas Dony bertopeng malaikat ketika berada di rumah. Namun liar saat di ranjang dengan wanita lain. Oh, Tuhan! Salah apa diri ini, sehingga aku harus merasakan sesakit ini saat dikhianati.

"Dek....dek...." Mas Dony memanggilku.

"Iya, Mas."

"Ini, aku bawakan martabak manis, kesukaanmu." Mas Dony menyodorkan bungkusan hitam ke dalam genggaman tanganku.

"Iya, makasih, Mas."

"Sama-sama, Sayang." Mas Dony mendekat hendak mencium keningku. Namun aku menjauh dan menepisnya.

"Kenapa? Kok nggak mau dicium?"

"Maaf, Mas. Aku belum mandi."

"Ya ampun, kirain kenapa? Soalnya tadi Mas makan jengkol di jam makan siang tadi. Kirain pengaruh itu."

"Ya sudah, aku siapin makan kita ya?"

"Nanti aja, Dek. Aku mandi dulu."

"Ya sudah, sana mandi dulu, Mas."

"Oke."

Saat Mas Dony mandi, aku iseng membuka smartphone milik nya. Dan membuka aplikasi hijau, dan mencari chat dari Sari. Benar saja, ada chat dari si wanita sundal itu pagi tadi.

[Foto kamu ngangenin, Mas.]

Chat sebelumnya gambar yang dikirim Mas Dony untuk mengobati yang katanya 'kerinduan si bidadari'. Huek! Mau muntah. Mataku terbelalak saat melihat foto yang dikirim Mas Dony, foto syur mereka sedang selfie tanpa busana! Foto yang entah kapan dan dimana diambilnya. Airmataku hendak menganak sungai kembali. Aku tahan.

Aku lihat lagi foto-foto lain disana, foto telanjang Mas Dony! Mas Dony mengirim foto diam-diam dari kamar kami. Aku melihat background foto itu adalah wallpaper di kamar tidur kami. Seperti ada kelainan di dalam jiwa suamiku. Aku tak tahu apa namanya, yang jelas seperti berkepribadian ganda.

Aku mencoba melakukan video call dan mengarahkan ke tembok, berharap di angkat oleh Sari.

Dan benar saja, diangkat!

"Kenapa, Mas? Kangen? Kok wajahmu nggak ada?"

Aku diam, lalu dia bicara lagi.

"Pasti mau kasih kejutan deh? Iya 'kan?"

Dan terlihat di layar, Sari mulai melucuti pakaiannya. Wah, benar-benar wanita sundal! Aku matikan video call tersebut, sebelum Mas Dony selesai mandi. Aku menonaktifkan data internetnya. Menghilangkan jejak.


Next...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 6)"

Post a Comment