
#Aku Menemukan Video Call Sxx di Gawai Suamiku (Part-5)
#AMVCSDGS5
Penulis: VR
Selesai mandi, aku merapihkan rumah dengan hati-hati. Sebenarnya badanku tidak lagi merasakan sakit. Hanya hati ini lah yang memerlukan pengobatan lebih lanjut. Masih terbayangkan olehku betapa infeksi yang bernanah itu telah berhasil menghujam jantungku.
Drrrrt....drrrrt....
Smartphone ku bergetar, ada panggilan masuk. Ayah mertuaku menelepon.
"Assalamu'alaikum, Nak."
"Wallaikumsalam, Pak. Ada apa, Pak? Bapak sehat, kan?"
"Alhamdulillah kami sehat, Nak. Oh iya, kami sudah di terminal Bekasi ya? Kami akan ke rumah kalian."
"Sekarang, Pak? Mas Dony lagi kerja, nggak ada yang jemput gak apa-apa?"
"Oh, nggak apa-apa. Kan ada taksi online, kalian kirim saja alamat kalian yang lengkap ya? Biar Bapak order dari sini."
"Iya, Pak. Hati-hati ya."
"Baik, Nak. Assalamu'alaikum."
"Wallaikumsalam."
Hatiku makin gelisah saat mengetahui Bapak dan Ibu mertuaku akan menginap di rumah kami. Sudah ku pastikan, akan menghentikan sementara penyelidikan ku. Takutnya aku meledak saat memergoki Mas Dony dan Sari, malah membuat kesehatan mertuaku terganggu. Bapak mertuaku memiliki riwayat penyakit Jantung, sementara Ibu mertuaku menderita penyakit Diabetes. Kalau ada pikiran, pasti mempengaruhi kesehatan mereka.
Aku menyiapkan kamar tamu dan membersihkannya. Tak lama kemudian, Mbak Rasti pun datang mengantar Keyla. Oh, anakku. Betapa malangnya takdir kita, memiliki sosok kepala rumahtangga yang seperti ini. Kram perutku kembali muncul setiap aku membayangkan pengkhianatan Mas Dony. Entah ada apa dengan perutku, seolah sejalan dengan oikira ku yang kacau. Demikian pula perutku yang seolah sama kacaunya.
"Vera, kamu tuh masih sakit ngapain sih capek-capek? Udah panggil aja lagi ART mu yang kemarin. Kalau sudah pulih, ya sudah kamu kerjakan lagi sendiri." Mbak Rasti terlihat sangat khawatir dengan keadaanku, kata Mbak Rasti aku terlihat sangat pucat dan terlihat tidak segar.
"Iya, Mbak. Sudah aku hubungi. Nanti sore katanya dia datang."
"Oke, oh ya, semalam aku kabarin Ibu dan Bapak. Katanya mereka belum bisa datang untuk menjengukmu."
"Mbak, tapi gak bilang masalah selingkuh nya Mas Dony kan?" Aku memastikan agar Mbak Rasti tidak teledor.
"Mau kamu gimana?" Mbak Rasti bertanya ketus sambil agak melotot sedikit, maklum Mbak ku ini memang agak kuno kalau mau memancing emosiku. Tapi aku tahu dia sayang padaku.
"Ish.... Jangan lah, Mbak. Please..."
"Kamu tuh ya! Aku gemes sama kamu, sama kayak ibu-ibu di KBM yang kalau baca jalan cerita pelakor begini, pasti geram."
"Hehehe.... Emang Mbak baca KBM juga?"
"Baca lah, makanya Mbak gak mau kamu dibully nanti sama emak-emak di KBM."
"Serius dulu ah, aku minta tolong jangan bilang siapapun termasuk Ayah dan Ibu juga Mas Reyhan."
"Mas Reyhan?"
"Iya."
"Lha, dia kan suamiku? Nggak boleh ada dusta diantara kami."
"Ya elah, dusta apaan sih, Mbak! Kebanyakan nonton sinetron di channel ikan terbang nih!"
"Emang. Hehehehe.."
"Tuh kan, betul!"
"Ngeri lho, sinetron sekali tayang habis itu." Mbak Rasti terlihat serius menjelaskan, sementara aku sibuk menata buah di meja makan.
"Ngeri kenapa?"
"Iya, dikit-dikit pelakor nya melarikan diri terus bawa kabur harta si pebinor apa ya namanya? Gitu deh, terus nanti pas lari eh ada mobil atau motor yang menabrak. Lalu ko'it deh itu pelakor sama pebinor."
"Amit-amit. Hufth."
"Maaf ya? Jadi sewot nih, Mbak mu."
"Mbak, Keyla tidur sih? Habis minum susu atau makan?"
"Habis Mbak ceritakan tentang kadal."
"Kadal?"
"Iya, kadal yang iseng."
"Ada-ada aja! Eh, mertuaku lagi dijalan kesini. Mbak, aku bisa minta tolong?"
"Oh, mau kesini? Mau minta tolong apaan? Kalau Mbak bisa, ya ditolong. Kalau nggak bisa jangan maksa! Kamu kan gitu."
"Hehehehe, tolong masakin rendang ya? Atau opor juga gak apa-apa, mereka suka."
"Bahan lengkap?"
"Kayaknya lengkap."
"Oke, ini Keyla tidurin dulu di kamar. Biar aku cek bahan untuk memasak." Mbak Rasti menyerahkan Keyla dari gendongannya. Terasa pedih melihat putri sukungku, yang selalu riang setiap Ayah nya pulang dari kantor. "Nanti, mungkin tak akan ada lagi sambutan hangat dari kita, Nak," batinku.
Satu jam kemudian mertuaku pun tiba di rumah.
"Kamu sehat, Nak?" Tanya ibu mertuaku.
"Sehat, Bu." Aku sedikit berbohong, tapi ibu mertuaku sadar akan kebohonganku.
"Kamu pucat sekali, kamu sakit ya?"
"Iya, Bu. Adik saya habis kuret." Mbak Rasti tiba-tiba muncul di hadapan kami.
"Kuret? Kok nggak kabarin kami?" Ayah mertuaku tampak panik.
"Ma-maaf, Pak. Kami nggak mau kalian khawatir." Jawabku.
"Nak, kalau ada apa-apa dengan kalian, wajib kasih tahu orangtua. Apapun itu." Ibu mertuaku memelukku hangat, ada kecemasan didalam pelukannya. Hampir saja aku menitikkan airmataku. Ku tahan, aku gigit bibirku agar mataku mau bersahabat.
"Maaf ya, Bu. Aku nggak bisa jaga bakal calon cucu ibu."
"Jangan bicara begitu, itu semua kehendak Tuhan. Mungkin belum waktunya kalian memiliki anak kedua."
Aku mencerna kalimat 'belum waktunya', benar sekali adanya. Memang jika anak itu masih ada di rahimku, bisa ku pastikan hari-hari penuh dengan kesakitan akibat sakit di pikiranku.
"Iya, Bu."
"Oh ya, ini ada oleh-oleh hasil kebun kita." Ayah mertuaku menyerahkan buah dan sayuran hasil kebun mereka.
"Walah, repot jadinya, Pak."
"Kalian harus merasakan juga hasil olahan tangan kami."
"Terimakasih ya, Pak."
"Iya, sama-sama. Mana Keyla cucuku?"
"Tidur di kamar. Baru aja."
"Ya sudah, Bapak capek banget nih perjalanan delapan jam. Bapak istirahat dulu ya?"
"Oh iya, di kamar biasa ya, Pak?"
"Ibu juga, sebentar aja mau rebahan. Depan TV aja kamu gelarin alas ya?" Ibu mertuaku, setiap datang pasti maunya tiduran depan TV. Sementara Bapak istirahat, juga Ibu yang sedang menonton TV, kami lanjutkan memasak.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Malam ini terasa begitu syahdu, tampak keluarga yang harmonis di dalamnya. Ada mertua, suami juga anakku. Kami tampak harmonis di meja makan saat menyantap masakan Mbak Rasti.
"Eh, Dony. Kenapa kamu nggak kabarin Bapak kalau istrimu ini keguguran?"
"Bapak sudah tahu?"
"Iyalah, barusan Rasti kasih tahu."
"Mbak Rasti? Sekarang mana dia?"
"Sudah pulang, Mas." Jawabku lesu.
"Iya, Dony. Kalian ini setiap ada masalah pasti diam." Ibu menimpali ucapan Bapak.
"Dony panik, Pak. Makanya belum sempat kasih kabar."
"Lain kali nggak boleh seperti ini."
"Iya, Pak. Oh ya, jam berapa kemarin berangkat?"
"Subuh tadi kok kami berangkat, nggak macet naik Bus. Jadi sore tadi kami sudah sampai di Bekasi."
"Syukurlah. Terus siapa yang dirumah?"
"Ada Mas mu, si Tedi. Dia dan istrinya menginap sementara di rumah Bapak. Kan Mas mu itu masih belum dapat pekerjaan lagi, ya sudah Bapak suruh olah kebun dan jual ke pasar."
"Oh gitu, baguslah Pak."
"Iya, kamu gimana? Pekerjaan mu lancar kan?"
"Lancar, Pak. Cuma Dony kayaknya mau dipindahkan ke kantor Cabang di Jakarta."
"Pindah, Mas?" Tanyaku ikut nimbrung saat mendengar penjelasan Mas Dony.
"Rencana sih begitu, aku ditempatkan di salah satu kantor Cabang ekspedisi. Bos tadi siang sampaikan itu sama aku."
"Terus, Mas mau? Dari Bekasi ke Jakarta kan jauh, Mas. Kamu sanggup pulang pergi?"
"Kita lihat nanti ya, Dek. Mas belum tahu."
Kantor dekat saja Mas Dony tidak bisa aku jangkau kegiatannya, apalagi jauh di Jakarta. Aku berharap yang terbaik saja untuk semuanya.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Hampir satu minggu mertuaku menginap di rumah, kami hanya membawa mereka jalan-jalan ke Pantai Ancol. Hanya karena kondisi kesehatanku yang terlalu dikhawatirkan mereka, akhirnya kami liburan di Ancol. Kami menghabiskan waktu sampai malam, lalu memutuskan pulang kembali ke rumah.
Selama di Pantai, Mas Dony berusaha sesekali mencuri pandang ke arahku, namun aku tidak menyambut pandangannya. Aku masih belum bisa bersikap manis seperti biasanya. Mungkin hal itu yang menjadi tanda tanya dalam benak Mas Dony. Tapi biarlah, sementara waktu aku bersikap hambar. Agar ada pencerahan di hati suamiku ini.
Di rumah pun, aku hanya asyik mengobrol dengan mertuaku juga mengawasi Keyla bermain. Aku mulai memikirkan kata-kata Mbak Rasti, apa aku harus mengambil alih dulu semua harta yang kami miliki sekarang. Karena memang semua aset atas nama Mas Dony. Aku mengkhawatirkan kejadian di sinetron ikan terbang yang akan terjadi padaku.
Tapi tekad kuat dalam diriku lah yang berusaha meyakinkanku, bahwa aku bukanlah seperti sosok wanita dalam sinetron tersebut. Aku berbeda! Ya, aku akan mengungkap dengan caraku. Cara elegan. Yang membuat Mas Dony berpikir dengan jernih, siapa yang seharusnya diperhatikan. Rumahtangga ataukah permainan mesum dirinya!
Video yang dikirim Sari sangat jelas menggambarkan bahwa Mas Dony menikmatinya. Dan Sari juga terlihat haus akan belaian. Sungguh dua pribadi yang menjijikan bagiku. Membayangkan berbagi kelamin dengan wanita sundal seperti Sari sangat membuatku merasa jijik.
Selama masa pemulihan berlangsung, aku bersyukur. Karena sama seperti ibu nifas yang tidak diperbolehkan bercampur dengan suaminya. Jadi, ada waktu dimana aku tidak terperdaya oleh manisnya sikap Mas Dony, seperti yang selama ini telah aku telan mentah-mentah tanpa di saring dahulu atau tanpa diblender. Dan akhirnya aku hampir memuntahkannya.
Next...
0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 5)"
Post a Comment