Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 3)


Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 3)


#Aku menemukan video call sxx di gawai suamiku (Part-3)
#AMVCSDGS3
Penulis: VR


Sore itu kami memutuskan pulang ke rumah, kebetulan malam minggu pula. Namun sebelum pulang, Mas Dony mengajakku ke salah satu mall di Bekasi, yang kebetulan dekat dengan rumah kami.

"Dek, kamu gak apa-apa nih kalau kita ke Metropolitan Mall dulu?"

"Iya, gak apa-apa, Mas."

"Badanmu udah enakan?"

"Udah kok, Mas. Cuma penyesuaian aja, namanya ibu hamil. Kayak waktu hamil si Keyla aja."

"Ya sudah kalau begitu."

Kami pun tiba di mall, Mas Dony mengajak kami makan di solaseneng.

"Makan di solaseneng aja ya, Dek?"

"Iya boleh."

"Yuk, masuk."

Mas Dony masih memperlakukanku dengan sangat mesra, tak segan pula menggandeng tanganku sembari menggendong Keyla. Tatapan mata orang-orang yang sedang makan disana pasti sepemikiran denganku, bahwa beruntungnya aku memilikinya.

Dulu memang aku sangat menghormatinya bahkan membanggakan sosoknya kepada teman atau keluargaku. Kini, hatiku berdebar kembali. Terbayang video-video panas yang dikirimkan para gadis itu, entahlah gadis atau perempuan apa namanya yang berani mengirimkan video yang sangat tidak mendidik untuk ditonton itu.

"Dek," Mas Dony menyadarkan lamunanku.

"Eh, iya."

"Iya apa? Kamu jadi mau pesan chicken katsu atau chicken teriyaki?"

"Chicken blackpaper aja, Mas. Orange juice satu."

"Lho, biasanya kamu suka katsu atau teriyaki? Kok beda menu?"

"Sesekali ganti menu, Mas. Biar gak ambyar." Jawabku sengit.

"Apaan sih kamu, Dek! Nggak biasanya."

"Udah aku pesan itu aja, Mas. Buat Keyla nasi plus soto aja."

"Ya sudah, sebentar ya. Mas pesankan dulu."

Saat Mas Dony menuju kasir hendak memesan sekaligus membayar, aku membuka smartphone ku, dan membuka aplikasi hijau milikku, hendak mengamati foto profil nomor telepon atas nama Sari Anggraini itu.

Ku ketik namanya di pilihan pencarian, setelah ketemu, ku lihat foto profil yang dipasangnya. Jijik! Itu kesan pertama yang ku nilai dari foto itu, foto genggaman tangan sembari ada teks yang terselip di gambar itu, Sari ❤️ Dony. Begitu teks yang terbaca oleh kedua bola mataku.

Untuk memulai penyelidikan ku, aku sudah mengunduh aplikasi hijau lagi, dengan nomor terbaru agar Sari tidak mencurigai ku. Aku pun membuat akun palsu di Facebook. Ku buat akun dengan nama Robert, aku memasang foto profil pria tampan yang ku ambil dari akun orang dari negeri Thailand.

Sebenarnya yang ku lakukan salah, mengambil foto orang lain untuk kepentinganku sendiri. Tapi demi penyelidikan, aku lakukan. Dan aku meminta pertemanan dengan Sari. Tak lama dikonfirmasi. Perjalanan penyelidikan akan aku lakukan setelah sampai di rumah, atau beberapa hari lagi. Agar tidak terkesan mencurigakan.

"Bu, ini pesanannya. Silahkan menikmati."

"Terimakasih, Mbak."

"Baik. Ada yang bisa saya bantu lagi, Bu?"

"Sudah, Mbak. Nanti kalau mau pesan yang lainnya, saya panggil lagi."

"Baik, permisi Bu."

Ku lihat Mas Dony tampak di luar restoran, seperti sedang berkomunikasi lewat telepon seluler miliknya. Dan mimik wajahnya sangat serius. Aku pastikan Mas Dony sedang berbicara dengan wanita yang menjijikan itu. Siapa lagi kalau bukan Sari Anggraini!

"Dek, ya ampun sudah habis makananmu?"

"Ya iyalah, Mas ada setengah jam terima telepon. Mesti gak sadar ada kami, kan?"

"Bukan begitu, Dek. Mas ditelepon sama kantor, ada masalah disana. Jadi Mas nanti langsung ke kantor. Gak apa-apa kan?"

"Ya ampun, sudah malam kali, Mas!"

"Mau bagaimana lagi, Dek. Mas kan penanggungjawab untuk barang yang keluar masuk dari pabrik."

"Nggak bisa besok?"

"Nggak bisa, Dek. Urgent."

"Terus kami gimana?"

"Mas antar sampai ke rumah."

"Ya sudahlah, habiskan makananmu dulu."

"Iya. Keyla ketiduran ya?"

"Iya, Mas. Mungkin capek, dari tadi ngoceh melulu."

Dan kami pun terdiam.

Setibanya dirumah,

"Ya sudah ya Dek, Mas jalan lagi."

"Nggak masuk dulu sebentar? Katamu rindu?" Aku mencoba menahannya, namun tak berhasil. Ada aroma mencurigakan kali ini.

"Nggak bisa, Sayang. Besok aja ya kita melepas rindu? Mas ke kantor dulu. Mungkin agak larut pulangnya."

"Iya, Mas."

"Kamu kunci aja nanti, jangan tungguin aku. Tidur aja, aku bawa kunci rumah kok."

"Oke."

Mas Dony mendaratkan kecupan hangat di keningku, juga mengusap perutku. Hangat, namun menguap. Uap menjijikan saat terbayang lagi video panas dan foto genggaman tangan bersama si hello kitty.

"Baik-baik di dalam perut ya, Ayah pergi kerja dulu." Begitu ucap Mas Dony ke calon bayi kami.

Begitu Mas Dony pergi, aku kunci rapat pintu rumah dan masuk ke dalam kamar. Penyelidikan dimulai.

Aku menonaktifkan terlebih dahulu akun Facebook milikku, baru kemudian ku pasang akun fake yang sudah ku siapkan tadi. Aku mengatur sebaik mungkin profil di akun Robert, aku buat dengan nama panjang Robert Darmawangsa. Entah apa arti nama itu, yang jelas yang terlintas di pikiranku adalah nama itu.

Setelah selesai mengatur semuanya, aku intip pembaharuan status di akun Sari di Facebook. What???? Mataku terbelalak lagi untuk yang kesekian kalinya, dia memposting foto punggung laki-laki yang mengenakan kemeja seperti yang dikenakan Mas Dony sedang terbaring di kasur namun membelakangi si orang yang mengambil foto tersebut dan menulis caption 'Ada yang mau lembur malam ini❤️'

Emot Love yang diberikan oleh Sari membuat kepalaku serasa dihantam oleh benda keras. Teramat keras, sampai akhirnya perutku mengalami kram. Mungkin jabang bayi di dalam perutku paham, kondisi emosional ku saat ini. Bayiku merasakan seperti yang aku rasakan, aku sakit! Aku letakkan smartphone ku dan memutuskan meminum kembali obat pereda kram yang diberikan oleh pihak rumah sakit kemarin.

Aku membayangkan apa yang sedang dilakukan Mas Dony sebenarnya? Mengapa dia berbohong bahwa ada keperluan kantor dan harus lembur. Itu yang tidak pernah terbayangkan olehku, suatu kebohongan yang aku lihat dan saksikan sendiri.

Seakan tahu bahwa aku sedang memikirkannya, terdengar bunyi tanda pesan masuk di smartphone ku.

[Sayang, aku sudah sampai di kantor ya? Maaf aku mungkin sampai besok pagi baru pulang. Tenang saja, seharian besok milik kita berdua. I love you]

Airmataku menganak sungai, pilu seperti disayat sembilu. Entah apa yang dipikirkan suamiku, teganya dia berkhianat. Apa tidak cukup baginya bahwa aku selalu setia dan taat menunaikan tugas dan kewajibanku untuk melayaninya? Apa aku kurang cantik?

Terbayang olehku, saat Mas Dony meminta restu pada orangtuaku dan berjanji akan menjagaku dan setia selama pernikahan kami. Namun semua itu seolah menikam jantungku perlahan tapi pasti, aku yang membayangkan suami idealis yang kini menyimpang bagiku.

Bagaimana mungkin aku tidak sadar selama ini suamiku menonton tayangan film yang tidak seharusnya ditonton. Hal yang dibenci agama, dan dibenci oleh kami para istri. Aku hanya menangis malam itu, sementara putri mungilku terlelap dalam tidurnya.

Ku putuskan membalas pesan Mas Dony.

[Ya Mas, hati-hati disana. I love you too]

Aku berbohong, padahal hatiku sakit. Ingin rasanya menikam mereka yang sedang 'lembur' disana.

Pikiranku melayang pada Zaelani, teman kerja Mas Dony. Ku putuskan mengirim pesan padanya, menanyakan apakah benar Mas Dony lembur di kantor. Ku buang jauh-jauh pikiran foto punggung yang di posting Sari tadi, aku mencoba berpikiran positif.

[Malam Pak, saya istri Dony]

5menit kemudian pesanku dibalas Zaelani.

[Malam juga Bu Vera, ada apa ya?]

[Di kantor ada yang lembur ya?]

[Nggak ada, Bu.]

[Mobil ada yang pengiriman malam ini? Katanya ada yang bermasalah.]

[Pengiriman baru ada di hari Selasa, sekarang supir libur Bu.]

[Terimakasih,Pak.]

Tidak ada lembur hari ini, lalu kemana Mas Dony? Oh Tuhan, malam yang sangat membuat hati dan pikiranku tak tenang. Ku buka kembali akun Sari, dan ada satu postingan lagi disana.

Foto bathub yang penuh dengan air dan bunga bertebaran didalamnya. Serta dua gelas yang mirip anggur merah atau sirup, aku tak tahu itu apa. Yang jelas seperti sepasang pengantin baru yang akan memulai episode di malam pertama.

Ada caption yang mengerikan disana.
'Caramu yang membuatku yakin, kau lah penakluk hati ini.' Apa-apaan ini?
Semakin berat pandanganku, dan aku tiba-tiba terjatuh dan gelap!

Aku tak sadar lagi, untuk yang kedua kalinya aku pingsan. Entah siapa yang sudah membawaku kembali ke rumah sakit, dan sudah berapa lama aku disini. Hingga akhirnya aku sadar dan membuka mataku. Terlihat di hadapanku ada Mas Dony disana.

"Dek, kamu sudah sadar?" Mas Dony memegang kedua tanganku dan menciumnya, ada tatapan kekhawatiran disana.

"Aku dimana, Mas?"

"Kita di rumah sakit, Dek."

"Aku kenapa, Mas?"

"Maafin Mas, Dek. Maaf."

Ku lihat ada Mbak Rasti di sofa yang tersedia di ruangan itu.

"Aku kenapa, Mas?"

"Kandunganmu gugur, Dek."

"Apa maksudmu, Mas?" Aku berucap lirih, dan menitikkan airmataku.

"Bayi kita tidak kuat, Dek. Kamu pendarahan dan akhirnya diputuskan untuk mengeluarkannya."

"Nggak mungkin! Aku nggak percaya! Kamu pasti bohong, kan, Mas?"

"Maaf, Dek. Andai Mas nggak ninggalin kamu malam itu."

"Nggak mungkin, Mas!"

"Yang sabar, Ver." Mbak Rasti mengusap kepala ku dan menciumiku.

"Mbak....." Aku menangis sejadinya.

Aku tak mengerti apa yang terjadi pada kandunganku, dan mengharuskan dokter menindak lanjuti. Yang pasti, karena peristiwa malam itu, aku kram dan tak sadarkan diri.

Hampir tiga hari aku menginap untuk dirawat di rumah sakit, hingga akhirnya kami pulang ke rumah. Di rumah aku jadi lebih banyak diam, belum ku mulai lagi penyelidikan ku. Aku masih harus memulihkan diri ini. Sementara Mas Dony memasak makanan untukku, aku menemukan dompet suamiku yang terletak di meja rias, aku penasaran sambil membukanya. Ada foto yang terselip disana, dan ada liontin yang terdapat nama disana.

Foto Sari beserta sebuah kalung yang berliontin hati dan terdapat pula foto di dalamnya. Foto mesra mereka berdua. Entah apa ini semua, aku mencoba menenangkan diriku. Berusaha untuk tidak terbawa suasana, aku ingin pulih dulu.

Ku letakkan kembali dompet beserta foto dan kalung itu. Aku membaringkan diri di ranjang. Keyla dibawa Mbak Rasti. Aku yakin, aku belum mampu mengurus putri kecilku untuk sementara waktu.

💮💮💮💮💮💮
Bagaimana kisah selanjutnya?
Apa yang akan dilakukan Vera setelah pulih? Akankah Vera menyerah dengan rumahtangganya? Atau melanjutkan penyelidikannya dan menyingkirkan Sari dari hidup Mas Dony?


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 3)"

Post a Comment