Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 2)


Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 2)


#Aku menemukan video call sxx di gawai suamiku. (Kisah Lanjutan)
#AMVCSDGS2
Penulis: VR


Ku amati sekali lagi dengan jelas foto itu, dan sekali lagi tangisku pecah. Mbak Rasti nampak menghampiriku sambil memelukku.

"Vera, kenapa kamu nangis, Dek?"

"Mbak....." Tangisku makin pecah. Kepalaku sakit dan aku merasakan seolah rumah Mbak Rasti berputar-putar dan aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelahnya.

Tiba-tiba saat mataku terbuka, sudah ada dokter di sebuah kamar yang aku yakini adalah rumah sakit. Ya, aku di rumah sakit! Tepatnya di IGD rumah sakit.

"Dek, kamu udah sadar?"

"Mbak, aku kenapa?"

"Kamu pingsan, Dek. Mbak panik, makanya Mbak bawa kamu kesini. Sampai Mbak lupa mau kasih kabar ke suami mu."

"Jangan kasih tau Mas Dony, Mbak. Bilang aja aku mau menginap di rumah kalian dua hari lagi."

"Lho, kenapa begitu? Kalian nggak lagi bermasalah, kan?" Tampak kecemasan di wajah Mbak Rasti.

"Belum ada masalah, tapi mau ada masalah." Jawabku lirih, menahan tangis pilu. Karena di pikiranku sudah berputar-putar sejauh mungkin, memikirkan perselingkuhan Mas Dony dan Sari!

"Apa maksud kamu?"

"Mbak, Mas Dony selingkuh."

"Apa-apaan kamu! Jangan bercanda. Mana mungkin Dony selingkuh!"

"Bantu aku, Mbak. Aku mau ungkap kebenarannya dulu sembari mengumpulkan bukti."

"Mbak masih nggak percaya."

"Ya, Mbak. Aku juga mau selamatkan rumahtangga ku."

"Ya sudah, Mbak urus obatmu dulu. Kata dokter tak perlu menginap."

Sudah sejam berlalu, hingga akhirnya Mbak Rasti kembali muncul.

"Mbak, Keyla dimana?"

"Aku titip sama Bik Cucu tetangga sebelah rumah."

"Smartphone ku?"

"Ketinggalan di rumah, aku sangat panik tadi."

"Ya sudah gak apa-apa, Mbak. Kapan kita pulang?"

"Ini, Mbak sudah tebus resep dan ini hasil tes darah dan USG mu tadi, ternyata kamu hamil juga."

"Yang benar, Mbak?" Aku menahan lagi tangisku. Apa-apaan ini! Belum selesai menyelidiki masalah Mas Dony dan Sari, aku dikejutkan dengan kehamilan ku yang kedua. Ya, Keyla akan punya adik.

"Iya, Dek. Kita sama-sama hamil."

"Kita pulang hari ini kan, Mbak?"

"Iya, ini Mbak sedang pesan taksi online."

Setibanya di rumah Mbak Rasti, tampak Mas Dony sudah ada disana.

"Dek?"

"Mas, kok kesini?"

"Ya kan mau ikut nginep, besok kan aku libur. Gak apa-apa kan?"

"Eh..Emm..Iya bo-boleh." Jawabku terbata-bata.

Kami pun masuk dan segera duduk di ruang tamu.

"Kalian dari mana? Kok kamu pucat sekali, Dek?" Tanya Mas Dony dengan ekspresi cemas.

"Itu, Vera hamil lagi. Tadi dia pingsan karena nangis!" Mbak Rasti menjawab ketus.

"Pingsan? Hamil? Nangis?" Mas Dony mengerutkan dahinya.

"Iya Mas, Keyla mau punya adik." Aku memberikan foto hasil USG yang diberikan Mbak Rasti tadi.

"Alhamdulillah, kita mau punya anak lagi." Mas Dony memelukku hangat. Namun hatiku bergejolak, dan ingin berteriak namun aku tahan. Aku belum punya bukti kuat untuk semuanya itu.

"Iya, Mas. Alhamdulillah."

"Kita pulang saja ya, Dek?"

"Nggak usah Mas, besok sore aja kita pulang. Aku masih mau disini."

"Keyla mana?"

"Oh iya, sebentar aku ambil Keyla dulu di rumah sebelah. Tadi aku titip karena panik." Mbak Rasti segera menuju ke rumah Bik Cucu.

Segera Keyla berlari kecil saat mengetahui ayahnya ada disini.

"Ayah... Eyla au dadan."

"Ayo kita jajan, Keyla mau kemana?"

"Indonalet."

"Oke anak cantik, sini ayah gendong."

"Acik...."

Dan mereka pun pergi ke minimarket di ujung perumahan.

"Vera, sekarang kamu ceritain sama Mbak. Ada apa sebenarnya?"

"Gimana ya, Mbak? Aku belum punya bukti jelas soal ini. Tapi aku minta Mbak doakan aku agar semua baik-baik saja ya?"

"Iya, Dek. Jangan stres ya? Ingat kamu sedang hamil."

"Iya, Mbak. Makasih."

"Ya sudah kamu ke kamar sana, istirahat dulu. Ini smartphone kamu." Mbak Rasti menyodorkan benda mungil yang akan menjadi alat untuk mencari kebenaran perselingkuhan Mas Dony.

Aku masuk ke kamar dan menyelidiki kembali akun Sari Anggraini, dan mulai mengetik pesan melalui inbox.

[Maaf, kamu siapa ya?]

Terlihat bahwa pesanku sudah dibaca olehnya, namun tidak langsung dibalas. Aku menunggu, dan sepuluh menit kemudian terlihat di ujung sana sedang mengetik pula.

[Aku Sari, teman suamimu.]

[Teman? Teman dimana ya?]

[Kami kenal di Facebook.]

[Seberapa dekatnya kalian?]

[Lho? Kenapa kok Mbak tanya begitu?]

[Ya, aku hanya bertanya bukan? Bisa jawab?]

Aku agak emosi saat dirinya balik bertanya.

[Kami cukup dekat, Mbak.]

[Cukup dekat? Apa maksud kamu?]

[Kami berpacaran.]

[Apa maksud kamu? Tahu kan dia sudah beristri?]

[Ya, aku tau. Dan aku pun bersuami.]

Baru saja hendak membalas, akun ku sudah berhasil di blokir oleh Sari.

Makin terbakar hatiku mengetahui ini semua, dan sempat berpikir untuk melabrak Mas Dony. Tapi aku belum punya bukti kuat. Bisa aja nanti Mas Dony bilang itu fitnah, kan? Atau nanti dia berkelit atau justru membantah semuanya itu. Aku belum sanggup.

Aku menangis tanpa bersuara, hanya aku dan Tuhan yang tau betapa pedih dan perihnya hati ini. Seharusnya aku bahagia karena kehamilanku yang kedua ini, justru pilu yang terasa di dada.

Setelah selesai makan malam bersama, aku dan Keyla menuju ruang tamu untuk menonton TV. Sedangkan Mas Dony dan Mas Reyhan duduk di teras sambil menyesap kopi.

Terdengar olehku pembicaraan mereka, maklum jarak ruang tamu dengan teras amat dekat.

"Don, selamat ya. Kalian akan punya anak lagi."

"Iya, makasih Mas. Kalian juga katanya akan segera memiliki anak juga ya? Turut senang dengarnya."

"Bisa barengan gitu ya?"

"Iya ya Mas? Efek musim hujan kali ya? Hahahahaha"

"Bisa jadi, tapi ya semuanya itu sudah diatur sama Tuhan."

"Betul, Mas."

"Oh ya, Vera katanya kandungannya lemah. Jadi tolong lebih ekstra memperhatikan istrimu. Bantu dia dalam pekerjaan rumah."

"Iya, Mas. Siap!"

Terdengar jelas antusias Mas Dony di akhir kalimatnya. Tapi aku makin sedih, sedih kalau akhirnya aku harus menerima kenyataan pahit kalau suamiku yang aku cintai berselingkuh.

Ku hapus airmata yang sudah hampir menetes, ku peluk Keyla dan menciumnya.

"Keyla mau jadi kakak ya?"

"Akak? Eyla au dede."

Jadi ibu, mengajarkan ku untuk mengerti bahasa bayi. Ya, meskipun demikian, antara Keyla dan aku saling mengerti bahasa kami. Jadi, tak sulit bagiku untuk mengerti anak cantik milikku ini.

Kami pun segera masuk ke dalam kamar, Mbak Rasti pun sudah lebih dulu tidur. Lelah seharian karena membawaku ke rumah sakit tadi saat pingsan. Aku maklum, kondisi yang sedang mabok di trimester pertama memang sangat membuat mudah lelah.

Mas Dony menutup pintu kamar kami, dan meletakkan Keyla di pinggir dekat tembok. Agar tidak terjatuh dari kasur, pikirnya.

"Dek, Mas sayang banget sama kamu. Makasih ya kamu sudah memberikan ku putri yang cantik, dan sekarang kamu hamil lagi anak kita." Mas Dony menciumiku mesra dan memelukku hangat. Lagi-lagi hambar rasanya karena bayangan Sari dan foto tangan itu.

"Iya, Mas. Sama-sama." Aku melepaskan pelukannya.

"Kok dilepas, Dek? Mas kangen."

"Apaan sih, Mas? Ini kan di rumah Mbak Rasti."

"Memang ngaruh ya? Kan kita sudah halal."

"Iya, tapi nggak pantes lah, ada Keyla."

"Hmmm, baiklah. Besok kita pulang ya? Aku mau melepas rindu." Ucap Mas Dony sambil mengedipkan matanya.

Sebenarnya aku pun menginginkannya, tapi aku masih terbayang akan semua hal yang membuatku muak untuk sementara waktu.

Ku pastikan Mas Dony sudah benar-benar terlelap dan mendengkur. Ku ambil smartphone miliknya, namun sayang terkunci. Aku masukkan berkali-kali nomor pin namun salah! Akhirnya aku masukkan ulangtahun Keyla sebagai kata sandi, dan voila! Terbuka!

Aku mulai membuka aplikasi biru miliknya, dan segera mengecek inbox Mas Dony. Astaga! Mataku terbelalak melihat banyak video porno yang dikirimkan oleh banyak akun wanita, yang direspon jawaban dengan emoticon love oleh Mas Dony.

Ada nama Wina, Murti, Chika, Andini, Halimah dan masih banyak lagi. Dan semua akun itu jelas mengirimkan video porno. Ada juga beberapa yang mengirimkan video mereka yang sedang mandi dengan posisi telanjang.

Apa-apaan ini? Aku mau menangis dan berteriak membangunkan Mas Dony, namun ku urungkan niatku. Aku mencari nama Sari, dan kulihat chat terakhir mereka.

[Honey, makasih ya buat semalam.]

[Iya, sayang. Besok kita coba gaya lainnya ya?]

[Ih nakal, mau coba gaya apa lagi sih, Sayang?]

Itu balasan terakhir dari Mas Dony. Jijik aku membaca chat mereka. Gaya lain? Gaya apa yang mereka maksud? Gaya kodok? Gaya ikan berenang? Atau gaya paus menerkam?

Hampir gila aku membuka pesan demi pesan disana. Ku putuskan untuk memfoto semua bukti-bukti sebelum Mas Dony terbangun.

Ku putuskan melanjutkan tidurku meskipun mata enggan terpejam. Menganggap tidak terjadi apa-apa semalam, aku pastikan sikapku biasa saja. Aku salin nomor wanita bernama Sari itu, ku pastikan akan mengungkap semuanya!

"Tunggu tanggal mainnya, Mas! Aku buka kedokmu!"


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 2)"

Post a Comment