Dibalik PSBB, Makin Hari Semakin Tidak Menentu


Dibalik PSBB, Makin Hari Semakin Tidak Menentu


Makin hari, semakin tidak menentu.
Oleh: De Ceg Lie

Doni, seorang perantau di kota Bekasi.
Doni memutuskan bertahan di kota itu, di tengah pandemi Virus Corona atau Covid-19, Doni bertahan.

Pertama alasan dia bertahan untuk tidak pulang ke kampung halamannya karena kawatir misalkan dia pulang dan di jalan tertular Virus, dan takut itu terjadi sehingga nanti bisa menularkan ke orang tua atau sodara di kampung.

Kedua, Doni juga manut himbauan dari pemerintah, untuk tidak pulang dan percaya juga pasti dapat bantuan dari pemerintah untuk tetap bertahan, sampai keadaan membaik.

Doni adalah seorang perantau yang bekerja di toko di sebuah Mall di pusat kota Bekasi.

Toko dan Mall tempatnya bekerja sudah tutup, sebelum di diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau Psbb oleh Pemkot setempat.

Namun kenyataannya, Doni bertahan seakan sia sia karena semakin hari uang dia semakin tipis, bahkan dalam hitungan dua hari kedepan Doni di pastikan sudah tak punya uang, untuk makan dan biaya lainnya, seperti beli bensin, atau beli pulsa, beli gas, beras dan lain lain, sementara bantuan yang di janjikan pemerintah tak kunjung datang, sedangkan Psbb udah season ke dua.

Di sinilah ketidak menentu an urgency, Doni yang sudah ikut aturan dari pemerintah, dan bertahan demi memutus mata rantai Virus, seakan sia sia, pulang pun sudah tak bisa sama sekali, uang buat ongkos sudah tak ada, boro boro buat ongkos pulang, uang buat makan pun cuma tersisa dua hari kedepan.

Belum masalah kompleks lainnya, seperti sudah tak bisa bayar kost, dan usiran dari pemilik kost sudah menghantui.

Sudah di pastikan nasib Doni kedepannya tidak menentu.

Pemerintah juga terkesan diam akan masalah itu, kewajiban bantuan untuk masyarakat terutama perantau yang tidak pulang, seolah masa bodo, mungkin banyak kisah Doni ini di lain tempat.

Sebeginikah kualitas penyelenggara Negara sebesar dan sekaya Indonesia?.

Seolah mereka hanya mementingkan citra pribadi dan kelompok semata, bukan dengan setulus hati melayani rakyat bukankah mereka di gaji dari uang pajak dari rakyat, bahkan di saat pandemi yang belum pasti kapan berakhirnya ini, seolah empati mereka tidak ada, mereka seolah hanya bisa bicara tapi tak beri jawaban, solusi buntu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dibalik PSBB, Makin Hari Semakin Tidak Menentu"

Post a Comment