PONDOK REHABILITASI MISTERIUS Part 5


PONDOK REHABILITASI MISTERIUS PART 5


PONDOK REHABILITASI MISTERIUS PART 5

Oleh: Henggar Bintang
Masih bersama saya henggar, di part 5 ini saya akan menceritakan secara gambyang mengenai salah satu malam yang menurut penuturan farhan adalah malam yang begitu kacau dan mencekam, serta kisah pelariannya dari pondok rehabilitasi misterius tersebut. Sebelum saya mulai , saya ucapkan terimakasih untuk antusias teman2 serta berbagai macam bentuk reaksi antusiasnya, kritik dan saran juga dorongan untuk saya segera menulis part2 berikutnya hehehe matursuwun lur.. baiklah langsung saja kita mulai ceritanya, oh iya kopi sudah cemepak ? gorengan ? kacang godok ? baiklah kita mulai kalau sudah.

Malam itu semuanya berkumpul di sudut ruangan, hanya mengintip dari celah2 pintu dan jendela.. tidak ada yang berani keluar bahkan untuk sekedar memastikan apa yang sebenarnya terjadi. “ lex, jane seng mbok pasang neng awakmu ki opo to ?! “ tanya farhan heran, namun alex hanya terdiam pucat bak narapidana terhukum mati yang sebentar lagi akan dieksekusi. Menurut cerita farhan.. alex ini orangnya nggak bisa ditebak, layaknya orang yang nggak waras kadang susah diajak ngomong, ngomong “ A ” tau2 sampai ke “ Z “.. jadi disini farhan lebih cenderung akrab dengan vero daripada dengan alex. Tiba2 di sudut ruangan alex terlihat memuntahkan sesuatu dari mulutnya, “ pak.. alex pak.. ! “ teriak vero sambil menepuk bahu pak rahmat. “ walah kenopo meneh bajingan siji iki.. ?! “ farhan menggerutu nggak jelas karena panik, tidak lama kemudian alex memalingkan wajahnya dan mendorong tubuh mas agus yang ada di sampingnya hingga tersungkur, alex pun berdiri lalu berlari meninggalkan ruangan.. sontak semua berteriak dan mencoba membujuk alex untuk kembali ke dalam, namun seolah tidak mendengar alex tetap barlari ke arah lapangan depan pondok. “ gus.. han.. ayo bawa alex masuk, vero tetap disini jangan kemana2 “ ucap pak rahmat. “ wah ora ora.. sampean gelem nanggung nek ono opo2 ?! “ tolak mentah2 farhan, “ lalu siapa yang mau nanggung juga kalok ada apa2 sama alex ?! “ jawab pak rahmat. “ yaudah kalok harus keluar ya kita keluar semua, aku juga nggak mau sendirian disini “ sahut vero. Mas agus nampak berfikir keras, seolah2 dia ingin keluar ruangan membantu alex namun dia juga memikirkan resikonya. “ wah jan alex.. alex.. ! “ farhan menggerutu kesal sambil membuka pintu dan berjalan keluar ruangan.. sontak semua mengikutinya, sebenarnya farhan tidak tahu apa yang harus dilakukan.. dipikirannya hanya menemukan alex dan memaksanya masuk ke dalam ruangan. Sampai di depan area pondok farhan menemukan alex tergeletak di depan pintu gerbang pondok yang terbuka, entah apa yang baru saja terjadi semua orang kebingungan melihatnya, biasanya pintu gerbang pondok selalu tertutup sepanjang waktu, satu2nya orang yang memegang kunci akses gerbang pondok adalah pak rahmat, namun saat itu pak rahmat pun nampak bingung bagaimana hal itu bisa terjadi. “ lex! tangi cok ! “ ucap farhan sambil menyadarkan alex, “ rasah do melu2, iki urusanku, aku le dolanan.. aku dewe le kudune nanggung “ ucap alex sambil tergeletak lemas, tidak menghiraukan apa yang dikatakan alex semua segera mengangkat tubuh alex bermaksud untuk membawanya masuk ke dalam ruangan, namun anehnya semuanya tampak kesusahan.. seolah ada sesuatu yang menahannya, 4 orang serentak mengangkat tubuh alex sekuat tenaga namun tidak bergeser sedikitpun. Tidak berhasil mengangkat alex mereka justru dikagetkan dengan kehadiran gerombolan kera hitam yang ukurannya sangat besar, tidak seperti kera2 pada umumnya, gerombolan kera tersebut berdiri di luar pondok tepat di depan pintu gerbang menatap tajam ke arah farhan dan kawan2 seolah siap menerkam. Dalam kondisi seperti itu.. merasa terdesak dan terancam farhan yang notabene adalah pemuda yang hobi berkelahi itu mempunyai prinsip bahwasanya barang2 apa saja disekeliling adalah senjata, dan benar saja refleks farhan meraih sebongkah batu lalu melemparkannya ke arah gerombolan kera tersebut, “ lungo! rasah ngganggu! lungo! “ teriak farhan sambil melempari gerombolan kera tersebut dengan batu2 material bahan bangunan masjid namun kera2 tersebut hanya diam dan menatap tajam saat dihujani batu oleh farhan. “ woi! Tutup gerbange! “ teriak farhan pada vero, mas agus dan pak rahmat yang waktu itu hanya terdiam bengong melihat ulah farhan, sontak mereka semua langsung berlari ke arah pintu gerbang pondok lalu menutupnya. “alex.. alex..” ucap vero, lalu semua serentak mencoba lagi mengangkat alex yang tergeletak namun tetap saja terasa sangat berat. “ tinggal dulu aja, kita awasi dari dalam! “ ucap pak rahmat, lalu serentak semuanya berlari memasuki ruangan.

Dari dalam ruangan lewat jendela mereka semua secara bergantian memperhatikan alex yang tergeletak di depan pintu gerbang pondok, “ jancok! malah do meneng wae.. modar aku nek nganti dipangan munyuk2 kae mau “ protes farhan terhadap pak rahmat, mas agus dan vero. “ sorry mas, bingung aku tadi harus gimana.. badanku lemas semua “ jawab vero dengan wajah ketakutan. “ sudah.. kita bergantian perhatikan alex, semoga dia tetap disana “ ucap pak rahmat. “ ini jam berapa han ? “ tanya mas agus pada farhan, “ sudah hampir subuh mas “ jawab farhan. “ nanti setelah subuh kalau sudah agak terang kita coba lagi bawa alex masuk “ ucap mas agus. Farhan terlihat terus memperhatikan alex lewat jendela ruangan sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya untuk memastikan waktu, mas agus dan pak rahmat duduk sambil merapalkan do’a2 dan vero hanya duduk terdiam. “ aku masih kebayang2 sama monyet2 tadi mas, sumpah baru sekali aku liat monyet2 kayak gitu “ bisik vero pada farhan, “ sama, tak pikir arep dipangan aku mau “ jawab farhan. Malam itu sama sekali tidak ada yang tidur, semuanya berganti2an memperhatikan alex dari dalam ruangan. Singkat cerita akhirnya pagi pun tiba, perlahan2 cahaya matahari mulai menyingsing, nampak alex masih tergeletak di area depan pondok. Suara2 bising dan gemuruh dari luar ruangan sudah tidak lagi terdengar, bola2 api yang berterbangan mengelilingi area pondok juga sudah tak nampak lagi. “ ayo saiki wae.. wes padang iki, mesakke alex nek mengko2 “ farhan mengajak vero, mas agus dan pak rahmat untuk membawa alex masuk ke dalam ruangan, mereka pun segera bergegas menghampiri alex. “ baca do’a dulu sebisa kalian “ ucap pak rahmat, selesai berdo’a mereka ber empat langsung mencoba mengangkat alex yang sudah lebih dari 4 jam tergeletak di depan pintu gerbang pondok, mereka pun mencoba mengangkatnya.. walaupun masih nampak kesulitan namun kali ini mereka berhasil mengangkatnya. “ jancok abot tenan ! “ ucap farhan sambil mengangkat kaki alex. ( menurut pengakuan farhan ketika mereka ber empat mengangkat alex dia seperti memikul beban yang sangat tidak masuk akal, rasanya seperti mengangkat 4 orang dewasa, padahal postur tubuh alex tergolong tidak terlalu besar hanya saja alex itu orangnya agak tinggi ).

Sampai di dalam ruangan mas agus langsung menepuk2 pipi alex untuk mencoba menyadarkannya, “ dingin semua badannya “ ucap pak rahmat sambil terburu2 mengusapkan minyak ke kaki alex supaya hangat. “ pak, ini ustadz idris malah kemana ya kok nggak balik2 ? “ tanya vero pada pak rahmat, “ ya pamitnya bawa mbak nana ke gunung lawu.. mungkin beliau juga ada urusan penting “ jawab pak rahmat. Pagi itu pun mereka memutuskan menjaga alex secara bergantian, mulai dari pagi suasana pondok menjadi begitu mencekam.. tidak ada aktifitas seperti biasanya, tukang bangunan yang biasa membangun masjid hari itu pun tidak datang sehingga suasana pondok pun menjadi sangat sepi. Hingga menjelang siang mas agus dan pak rahmat kembali ke ruangannya masing2 untuk beristirahat, “ nek ngantuk turu wae ve.. aku tak le njagani alex “ ucap farhan pada vero, “ nggak bisa tidur aku mas, masih syok sama kejadian2 semalem.. masih percaya nggak percaya, kayak mimpi “ jawab vero. “ mengko bengi aku arep lungo ve, arep mlayu mbuh pie carane.. iso edan aku suwe2 neng kene, kalok kamu mau ikut habis isya udah harus siap, bawa barang seperlunya.. kalok kamu nggak mau ya aku tetep pergi “ ucap farhan sambil menatap serius ke vero, namun vero hanya diam seolah dia bingung seperti ingin ikut farhan kabur dari pondok tetapi ada banyak hal juga yang dia pertimbangkan. Hari itu farhan menghabiskan waktunya hanya berdiam diri di ruangan, semalaman tidak tidur tapi dia tidak merasakan ngantuk, hanya terus berpikir bagaimana dia bisa pulang dan pergi meninggalkan pondok, lalu tiba2 vero datang dan duduk di samping farhan “ mas, serius mau kabur malam ini ? “ tanya vero, “ serius lah, belum ada satu bulan aku disini udah hampir gila, tempat ini nggak beres “ jawab farhan sambil berjalan meninggalkan ruangan. Singkat cerita malam itu sekitar pukul 8 farhan berjalan ke area belakang pondok untuk memastikan tidak ada orang disana, karena biasanya pak rahmat atau ustadz idris kalau malam suka berkeliling pondok, lalu farhan berjalan ke arah ruangan pak rahmat untuk memastikan bahwa pak rahmat diruangannya dan sepertinya memang pak rahmat tidur lebih awal.. mungkin dikarenakan ngantuk semalaman nggak tidur. Selesai memastikan semuanya aman farhan pun kembali ke ruangannya untuk mengambil jaket dan slayer, sesampainya di ruangan perlahan farhan mendekati alex “ lex, aku pamit ya.. aku arep bali, do’ake raono opo2.. koe lwih aman neng kene lex, gek ndang mari sak kabehe yo bro “ bisik farhan ke telinga alex, lalu berjalan keluar meninggalkannya. Farhan melihat2 ke sekeliling ruangannya untuk mencari vero namun dia tidak menemukannya, sampai akhirnya farhan memutuskan untuk memulai pelariannya.

Malam itu suasana pondok begitu sunyi, farhan pun dengan sangat berhati2 berjalan ke arah belakang area pondok, sesampainya disana farhan menemukan vero sedang berdiri sembari melihat2 di sekelilingnya, “ heh ngopo koe neng kene ? “ tanya farhan, “ astaga.. aku kira kamu udah pergi mas, tadi aku lihat kamu jalan ke belakang kirain udah pergi “ jawab vero, “ aku balik ke dalem ambil slayer sama jaket, melu ra ? opo koe arep neng kene tekan tuwo ? “ ucap farhan ke vero, “ ikut, kayaknya ini kesempatan satu2nya buat pergi dari sini mas “ jawab vero, “ yowes gek ndang menek ndisik, tak jagani seko ngisor “ farhan menyuruh vero untuk memanjat naik terlebih dahulu sembari memasang 3 bambu panjang yang diarahkan ke atas tembok sebagai tangga, “ sebentar, barang2ku masih di kamar.. aku ambil dulu “ ucap vero, “ rasah! Tinggal wae sesok tuku meneh, seng penting metu sek seko kene.. akku yo ra nggowo opo2 kok iki “ bentak farhan. Mendengar perkataan farhan.. vero pun langsung bergegas memanjat ke atas tembok pondok dengan menggunakan bambu yang sudah dipasang oleh farhan, “ han.. ve.. ! “ terdengar suara orang memanggil mereka berdua dan begitu kagetnya mereka berdua melihat mas agus yang sudah berdiri di belakang mereka, “ lhoh mas ?! “ ucap kaget farhan, “ kalau mau kabur silahkan aja, saya nggak pernah menghalang2i orang buat kabur dari sini, saya juga nggak akan bilang ke siapa2 soal ini tapi pesan saya kalau mau kabur pastikan kalian bener2 bisa pulang, jangan sampai balik lagi kesini.. yang ada kalian bakal diberi hukuman yang berat, yang pastinya akan lebih mempersulit untuk hidup disini kalau sampai kalian kembali, hati2 farhan.. vero.. “ ucap mas agus sambil berjalan pergi, mendengar perkataan mas agus farhan langsung menaiki bambu yang sudah terpasang dan memanjat ke atas, sampai di atas tembok pondok farhan dan vero langung meloncat keluar ke arah rerumputan di belakang pondok, “ asem peteng banget, lali ra sangu senter.. asu tenan! “ ucap farhan, “ udah ayo jalan ! “ sahut vero. Mereka berdua pun berjalan ke arah jalan setapak tepat di samping pondok, sempat merinding ketakutan ketika melewati kuburan bu lis.. mereka pun berjalan perlahan2 menyusuri jalan setapak yang mengarah kedalam hutan tanpa penerangan sama sekali, sebenarnya farhan tidak tau ke arah mana dia berjalan.. yang dia pikirkan adalah berjalan lurus saja yang penting menjauh dari pondok. Karena sangat gelap.. berkali2 farhan terjatuh karena menabrak pohon2 yang ada di depannya ataupun tersandung akar2 pohon besar, “ mas, cari tempat buat istirahat sebentar dong.. udah hampir sejam jalan terus ni kita “ ucap vero, farhan pun berhenti tepat di bawah pohon besar untuk sejenak beristirahat, “ kok soyo rungkut yo witwitane, kayaknya kita melenceng jauh dari jalan setapak tadi ve.. gimana kalok kita ambil arah lain ? sorry peteng banget, raketok blas dalane “ ujar farhan, “ kayaknya udah jalan jauh juga tapi belum ada tanda2 pemukiman warga mas.. kalok ada penerangan sih agak mendingan jadi kita bisa lihat jalan, nah ini goblok banget kita tau mau masuk hutan nggak bawa senter “ sahut vero. Usai istirahat sejenak farhan dan vero kembali berjalan perlahan2, sambil memegangi jaket farhan, vero mengikuti setiap langkah farhan dari belakang. Kurang lebih setengah jam berjalan tiba2 farhan berhenti lalu melihat ke sekelilingnya.. melihat pohon besar di depannya dia kaget, farhan ingat betul ini adalah lokasi tempat yang dulu ustadz idris pernah mengajaknya kesini dan pohon besar ini adalah pohon tempat ustadz idris menyemayamkan ruh mas heri ( saya ceritakan di part 2 ), “ ada apa mas ? “ tanya vero, sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tidak menjawab pertanyaan vero, farhan pun berbalik arah dan mengambil jalan memutar untuk melewati pohon tersebut. “ koe ngerti wit gede seng mau kae ve ? nah kae nggon seng mbiyen aku pernah cerito nek aku bengi2 diajak ustadz idris neng hutan.. nah kae mau uwite, tapi aku mbiyen kae ketoke ra adoh bgt ngeneki e perjalanane, ra nganti setengah jam wes tekan kono kui mau “ jelas farhan. “ yang di pohonnya ada ruh temen ustadz ? “ tanya vero kaget, “ iyo.. bener, ketoke iki durung adoh seko pondok “ jawab farhan, “ lah.. udah ada 2 jam jalan masak masih belum jauh dari pondok, mana aku udah capek banget.. mau pingsan rasanya “ ujar vero.

Singkat cerita, malam itu farhan dan vero terus berjalan menyusuri hutan, mencoba menembus hutan tanpa perbekalan dan penerangan.. banyak hal2 aneh dalam perjalanan mereka namun tidak dihiraukan, mereka terus berjalan dan terus berjalan tanpa memperdulikan rasa kantuk dan lelah yang semakin menjadi2. “ mas, istirahat dulu.. aku capek! “ pinta vero, “ yaa.. aku yo kesel bgt iki sumpah, ra nyongko aku perjalanane adoh banget ngeneki “ jawab farhan, “ ini jam berapa mas ? “ tanya vero, “ jam 2 lebih dikit, udah 5 jam kita jalan ve “ farhan menjawab. Belum lama beristirahat tiba2 vero menepuk2 punggung farhan sambil menunjuk ke satu arah, “ mas.. mas.. kayaknya itu ada rumah deh, samar2 aku lihat “ ucap vero. Farhan pun berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh vero, rupanya benar disitu ada sebuah gubuk tua berbentuk kotak yang terbuat dari bambu, “ ketoke iki udu omah ve “ ucap farhan, “ lah siapa juga yang mau tinggal di hutan kayak gini mas “ sahut vero, farhan pun mendekati gubuk tersebut dan mengintip dari celah2 pintu untuk memastikan apa yang ada di dalamnya, tidak begitu terlihat jelas karena gelap farhan pun cukup lama mengintip dari celah2 pintu dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, terkejut farhan mendapati 2 buah keranda mayat tua yang terbuat dari kayu di dalam gubuk tersebut, dan anehnya salah satu keranda mayat tersebut ditutupi kain putih. “ asu.. bandoso isine ! “ bisik farhan ke vero, “ hah ? bandoso ? “ tanya vero, “ iyo.. keranda mayat!! “ jawab farhan, namun tiba2 terdengar suara gong yang dipukul dengan sangat kencang tepat di samping telinga mereka, “ gooooongggggg…!!!! “, mereka pun sangat terkejut akan suara tersebut, lantas farhan dan vero pun berlari sekencang2nya meninggalkan gubuk tersebut, tanpa memperhatikan sekelilingnya mereka terus berlari.. berkali2 terjatuh karena menabrak pepohonan dan tersandung bebatuan ataupun akar2 pohon namun mereka kembali berdiri dan bergegas untuk berlari, tanpa disadari mereka sudah meninggalkan hutan dan kini mereka berada di area persawahan yang sangat luas. “ mandek.. mandek.. iki ono sawah berarti neng sekitar kene ono perkampungan! “ ucap farhan sambil mengisyaratkan untuk berhenti sejenak. Vero lantas duduk di pematang sawah sambil mengusap2 kakinya yang penuh luka karena terjatuh dan tergores akar2 pohon saat berlari tadi. “ rapopo to ? gari sitik meneh iki, ayo lanjut ve “ tanya farhan sambil menarik tangan vero. Mereka pun kembali berjalan menyusuri sawah untuk mencoba menemukan rumah penduduk, tidak lama kemudian di kejauhan farhan melihat cahaya seperti berasal dari lampu mobil yang melintas di jalanan kecil pinggir area persawahan tersebut, farhan dan vero pun bergegas berlari sekuat tenaga untuk menghadang mobil tersebut.. “ tolong !! tolong !! tolong !! “ teriak farhan dan vero sambil melambai2 ke arah mobil tersebut, rupanya ada jalanan kecil beraspal di ujung area persawahan, mereka pun berdiri ditengah jalanan tersebut sambil melambai2, perlahan2 mobil pickup tua yang sedang melintas itu pun berhenti. “ pak tolong pak.. saya dan teman saya habis kerampokan “ ucap vero sambil mendekat ke arah supir dari mobil tersebut, “ lhoh, memang mbaknya dari mana ? “ tanya pak supir yang sudah cukup tua tersebut, “ jogja pak, tadi kebetulan kami melintas di daerah sini lalu ada rampok yang ngambil sepeda motor kami “ sahut farhan, “ jogja ?! kok adoh men dek.. yaudah monggo naik saja, saya mau ke kota ngantar sayur nanti saya turunkan di kantor polisi “ jawab pak supir. Vero pun segera bergegas masuk ke dalam mobil duduk disamping bapak supir dan farhan pun segera meloncat ke bak belakang mobil lalu duduk disitu dengan tumpukan sayur2an, tak lupa farhan segera mengenakan slayer yang dia bawa untuk menutupi wajahnya karena takut orang2 pondok yang mencarinya akan melihatnya. Sambil duduk di bak belakang mobil farhan melihat ke sekelilingnya.. rupanya memang benar kanan kiri jalanan yang terlihat hanya hutan, merasa sangat beruntung farhan berjumpa dengan bapak ini, merasa sangat lelah dan mengantuk farhan menyandarkan tubuhnya di tumpukan keranjang sayur dan tertidur.

Riuh suara orang berjalan pun terdengar, ketika farhan membuka matanya dia melihat suasana pasar yang mulai ramai.. dia senang karena seperti sudah sangat lama tidak melihat keramaian orang2, namun ketika dia mencari vero dia tidak menemukannya, merasa masih sangat lelah dan mengantuk farhan kembali menyandarkan tubuhnya dan tidur. Setelah tertidur cukup lama farhan pun terbangun karena panasnya terik matahari yang memapar ke wajahnya, saat itu mobil sedang melaju cukup kencang, terlihat vero sedang mengobrol dengan pak supir yang entah siapa namanya di kabin depan, ketika farhan melihat jam tangannya dia baru sada kalau dia tertidur cukup lama.. hampir 5 jam dia tertidur dan begitu terkejut ketika dia melihat ke sekelilingnya, “ woi !! ve !! iki jogja iki.. mandek !! “ farhan berteriak pada vero dari bak belakang mobil, “ iya.. tau! udah duduk aja disitu, kita diantar pulang bapaknya “, mendengar apa yang dikatakan vero, farhan merasa sangat lega. Singkat cerita mereka berhenti di depan rumah yang sangat besar dan megah di daerah kota gede Jogjakarta, farhan pun heran “ ve iki omahe sopo ? “ tanya farhan pada vero, “ rumah tanteku mas, ayo masuk dulu “ jawab vero, “ lho terus kok bisa sampai sini ve ? “ sekali lagi farhan bertanya karena penasaran, “ kalungku ku kasih bapaknya tadi buat upah nganter kita ke sini “ vero menjawab sambil membuka pintu rumah dan mengajak farhan untuk masuk, dari dalam rumah yang mewah dan megah itu keluar sesosok wanit paruh baya “ mas kenalin tanteku “ ucap vero, “ oh iya.. say farhan tante “ ucap farhan pada tantenya vero, “ saya arum, temennya vero ? “ sapa tante arum sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman, sejenak farhan sedikit heran dengan penampilan tante arum ini, postur badannya yang besar, hidungnya yang besar dan mancung, gigi taringnya yang juga besar dan runcing, juga jari telunjuk dan kelingkingnya yang tidak ada.. entah kejadian apa yang membuat hal itu bisa terjadi.. mirip dengan tokoh nenek sihir di film2 kartun, hal itu membuat farhan sedikit heran, namun tante arum ini orangnya sangat ramah. Setelah berkenalan dengan tante arum mereka pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, ketika memasuki rumah tersebut aroma kemenyan tercium sangat pekat, lukisan dan perabotan di rumah tersebut yang juga terkesan mistis membuat farhan heran. “ silahkan duduk.. maaf ya mas, beginilah kondisi rumah ini.. saya suka nuansa yang berbau horror hehehe “ ucap tante arum sambil tersenyum, “ iya, nggak papa tante “ jawab farhan sambil duduk di ruang tamu. Disitu mereka mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, “ kalian mau ustadz itu tante kerjain dari sini ? “ ucap tante arum sambil tersenyum. “ eh jangan tante.. Nggak usah “ jawab vero, “ seng ono malah koe seng digawe bingung mbak “ gumam farhan dalam hati. “ yasudah kalau gitu aku sama farhan mau bersih2 dulu deh, ayo mas ku anterin ke atas “ ucap vero sambil mengajak farhan untuk naik ke lantai atas, “ edan! Omahe gede tenan.. “ ucap farhan heran sambil melihat ke sekeliling rumah, “ ini rumah ibuku mas, ibu lahir disini.. Dulunya rumah kakek sama nenek aku, setelah beliau semua nggak ada aku sendiri yang nempatin waktu kuliah di amikom, tapi setelah aku pindah ke semarang ikut ayah ini rumah nggak ada yang nempatin, akhirnya tante arum yang nempatin, rencana aku mau disini dulu sementara waktu.. Aku masih males pulang ke semarang. nih kamar kamu pakek dulu kalok mau mandi2 sama istirahat, dulu kamarku ni “ ucap vero pada farhan, farhan pun berkeliling kamar yang cukup luas tersebut, ketika dia membuka kulkas yang ada di dalam kamar tersebut isinya minuman keras beraneka macam, lengkap! dari anggur merah sampai jack daniel tersimpan di dalamnya. “ bajingan cenan koe ve “ ucap farhan, “ hahaha ambil aja kalau mau, yaudah aku cari makan dulu nanti aku balik “ sahut vero sambil melangkah keluar dari kamar. Singkat cerita, setelah bersih2 dan beristirahat vero kembali ke kamar farhan lalu melemparkan satu slop rokok “ nih.. Dah lama nggak ngerokok kan “ ucap vero, “ sumpah!! Boloku tenan koe cok ! “ ucap farhan, “ habis ini mau kemana ? “ tanya vero, “ bali lah, makasih banyak yo ve.. Eh mbok aku silihi duit nggo numpak bus ve “ ucap farhan sambil membuka bungkus rokak pemberian vero, “ nih bawa aja, nggak usah dikembalii, cuman aku minta kamu kabarin aja kalok udah sampe rumah, tetep kabar2, diluar pondok kita masih bisa jadi temen.. Ni nomor telfon rumah “ ucap vero sambil menyodorkan uang dan kertas berisi nomor telfon, “ siap bos! “ ucap farhan. Usai makan farhan segera bergegas berpamitan pada vero dan tante arum untuk pulang.

Singkat cerita waktu itu saya ingat ketika menjelang pulang sekolah ada notifikasi di facebook saya, ketika saya buka ternyata pesan dari farhan bahwa dia minta tolong untuk dijemput di terminal condong catur jam 3 sore ( waktu itu facebook lagi ngehits banget, jadi setiap jam buka facebook, belum kenal WA, BBM, Instagram dkk ) agak kaget sih, soalnya setahu saya ni anak dipondokin sama orangtuanya. Akhirnya jam 3 sore saya tunggu di terminal, cukup lama saya menunggu di situ, eh bener dia nongol keluar dari trans jogja, saya sempat tertawa melihat rambutnya yang botak oh iya saya lupa cerita kalau di pondok rehabilitasi tersebut farhan sempat digundulin tuh rambutnya sama ustadz idris. “ man, aku nginep omahmu sek ya, aku bar mlayu seko pondok ki “ ucap farhan pada saya saat itu, “ yowes ayo “ saya jawab singkat lalu segera pulang kerumah bersama farhan, jadi udah biasa ni si farhan tidur dirumah saya sampai orangtua kami sudah sangat akrab. Malam harinya saya kaget karena HP saya berdering.. Ada panggilan masuk dari farhan, rupanya ada yang menggunakan handphone farhan untuk menelfon saya, waktu saya angkat ternyata bapaknya farhan yang menelfon saya dan menjelaskan kalau farhan kabur dari pondok bersama temannya, dan temennya yang cewek sudah balik lagi ke pondok, pada intinya bapaknya farhan bertanya pada saya apakah saya tau keberadaan farhan, lalu saya biarkan sejenak telfon dari bapaknya farhan dan bertanya pada farhan.. “ man, bapakmu ki.. Takon koe karo aku ora ? “ saya bertanya pada farhan waktu itu, farhan langsung mengambil handphone saya dan bercerita panjang lebar tentang pondok rehabilitasi tersebut pada bapaknya. Usai telfon farhan bercerita panjang lebar tentang apa yang dia alami di pondok rehabilitasi misterius tersebut, awalnya saya juga bingung.. antara percaya dan nggak percaya tapi setau saya ya memang begitulah ceritanya. lalu tiba2 farhan meminjam HP saya untuk menelfon vero “ halo.. tante arum, veronya ada ? Apa ? Balik ke pondok ? Kok bisa ? “ tak lama kemudian farhan menutup telfonnya, usut punya usut ternyata vero kembali lagi ke pondok rehabilitasi tersebut, entah apa yang terjadi.. Besar kemungkinan ustadz idris yang membuatnya, sore harinya ustadz idris ternyata menghubungi bapaknya farhan untuk menjalaskan bahwa farhan kabur dari pondok dan bertanya apakah ingin farhan dibikin kembali ke pondok lagi atau dibiarkan pulang terlebih dahulu, untung saja bapaknya farhan bilang ke ustadz idris untuk membiarkannya pulang terlebih dahulu saja. Ya besar kemungkinan kalau waktu itu bapaknya farhan bilang farhan supaya dibikin balik lagi ke pondok mungkin farhan bakalan balik lagi ke pondok entah dengan cara apa. Yang jelas saat itu vero sudah kembali ke pondok rehabilitasi misterius tersebut entah bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Tak lama berselang bapak dan ibunya farhan datang kerumah saya untuk menjemput farhan, disitu kami ngobrol soal pondok rehabilitasi tempat farhan dipondokkan, rupanya bapaknya farhan juga tidak tahu menahu soal pondok tersebut.. Loh kok bapaknya farhan bisa kenal sama ustadz idris ? Ya karena waktu itu bapaknya farhan adalah seorang tour guide, beliau selama 2 hari membimbing ustadz idris bersama tamunya seorang ustadz juga dari luar negeri berwisata berkeliling kota jogja. Lalu pondoknya kira2 ada dimana ? Saya juga nggak tau, farhan pun juga masih bingung.. Yang jelas saat pelarian farhan tidak sempat melihat sekeliling, ketika dia bertanya pada vero soal pelariannya ketika dirumah vero, vero sendiri tidak bisa menjelaskan dengan jelas.. yang jelas setelah berjam2 naik mobil pickup itu mereka sempat sadar melaju dari arah sragen ke solo, lalu berhenti sebentar di sebuah pasar dan tiba2 ketika farhan bangun dia sudah ada di jogja, tepatnya di rumah vero, farhan sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur ketika berada di mobil pickup tersebut. Setelah pelarian tersebut farhan melanjutkan sekolah di salah satu sekolah swasta di jogja, lulus dengan prestasi memuaskan, lalu melanjutkan kuliah di UGM mengambil program studi akuntansi, lulus agak lama tapi tetep lulus hehehe dan kini dia bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja, hidup bahagia bersama keluarga dan teman2nya. Lalu bagaimana dengan vero, alex dan mas agus ? Sampai saat farhan juga tidak tahu menahu tentang kabar dari mereka.. Ya semoga saja mereka berada di kehidupan yang lebih baik saat ini. Baiklah.. Saya henggar bintang selaku pencerita disini pamit undur diri, menganai cerita saya disini mohon diambil sisi positifnya saja, jika ada kurang2nya mengenai tulisan saya disini saya mohon maaf.. Salam hangat dari saya, sampai jumpa di lain kesempatan..

End...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PONDOK REHABILITASI MISTERIUS Part 5"

Post a Comment