
#Aku menemukan video call sxx di gawai suamiku (Part-4)
#AMVCSDGS4
Penulis: VR
Malam ini terasa sangat dingin, padahal AC di kamar tidak dihidupkan. Namun segera aku tersadar, mungkin efek kuret yang baru saja aku lewati. Tubuhku lemah, hatiku goyah dan lukanya bernanah.
Pernah merasakan luka bernanah? Sakit! Harus dipencet seketika, untuk mengeluarkan nanah beserta darah kotor yang menyebabkan penyakit infeksi itu timbul. Ya, aku sedang infeksi hati. Pikiranku kacau!
Mas Dony ada di sampingku, namun aku seolah tak menganggap dia ada. Sampai pikiranku melayang saat honeymoon di Subang 3 tahun yang lalu. Kami sangat lekat, dekat dan rapat. Sama seperti pasangan pengantin baru lainnya, saling memanjakan.
Terbayang lagi dan lagi, menyesakkan dadaku. Sampai akhirnya Mas Dony bersuara.
"Belum ngantuk, Dek?"
"Belum."
"Mau nonton DVD?"
"Nggak usah, Mas. Aku males nonton."
"Terus kamu mau apa?"
"Aku mau jalan-jalan, Mas."
"Nggak bisa, Dek. Kamu masih pemulihan."
"Hmmmm...."
"Nanti kalau sudah sehat ya?"
"Ya."
"Masih banyak pendarahannya?"
"Sedikit, tadi dokter bilang gak terlalu banyak kok darahnya. Udah pakai pembalut yang super."
"Sakit ya, Dek?"
"Lumayan."
"Maafin aku ya, nggak bisa jagain kalian."
"Aku mau bilang apa, Mas? Toh bayi kita sudah tidak terselamatkan." Aku berusaha menjawab dengan tegar, meskipun sebenarnya sakit.
"Seharusnya aku tidak pergi malam itu." Tampak penyesalan saat Mas Dony mengucapkan kalimat tersebut.
"Sudahlah, Mas. Kan kamu lembur, harus di kantor. Itu penting juga kan?" Aku membuang pandanganku ke arah dinding kamar, aku tak ingin Mas Dony melihat aku menangis.
Aku menangisi kebohongan mu, Mas!
Saat Zaelani memberitahuku bahwa tidak ada karyawan yang lembur di kantor, saat itu kepercayaanku memudar. Oh Tuhan, siapakah suamiku ini? Sehingga membuatku hendak jatuh tersungkur karena luka yang dia ciptakan untukku.
**********************
Sari Anggraeni, akun Facebook wanita sundal yang sangat menjijikan di mataku. Aku klik akunnya, aku melihat status bathub bertaburan bunga telah terhapus. Kini ada postingan yang agak mengecewakannya. Mungkin karena Mas Dony memilih pulang malam itu.
[Mas Dony, kamu tega! Semua sudah aku persiapkan, tapi kamu malah pergi.]
Aku masuk sebagai akun Robert Darmawangsa, dan mulai berkomentar disana.
[Hai, Sari ...]
Sari membalas dengan cepat, padahal ini masih pukul 02.00 dini hari. Aku memulai aksiku, saat Mas Dony tertidur pulas.
[Hai juga, salam kenal ya?]
[Iya, salam kenal. Boleh lanjutin di chat?]
[Oh, tentu boleh. Kita chat di messenger ya?]
[Ok.]
Dan aku pun mulai mengirim pesan lewat inbox, fasilitas yang disediakan Facebook untuk mereka yang menginginkan privasi yang lebih akrab. Dimana hanya mereka berdua yang bisa membacanya.
[Sari, aku minta nomor kontak WhatsApp kamu boleh?]
[Boleh, ini nomornya 0852-0852-0852]
[Oke, aku chat disana.]
Kami akhirnya melakukan chatting, terlihat memang si Sari ini perempuan yang genit. Baru kenal saja sudah ajak video call, dan mengirim pose seksi. Aku? Ya ku tolaklah, apa jadinya kalau dia tahu bahwa aku perempuan? Tentulah tak akan berlanjut penyelidikan ku. Aku mencoba merespon dengan berkomentar, 'cantik ya kamu' atau 'ish..seksinya' atau yang membuatku hampir mual membayangkan mengetik 'aku mau yang lebih seksi lagi dong'.
Jujur, sangat jijik untuk melakukan ini, tapi aku mau selidiki dulu sampai sedetail-detailnya. Karena aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Sari dan Mas Dony. Anehnya lagi, Sari justru makin menjadi-jadi saat aku merespon dengan jawaban yang terkesan nakal itu. Tak segan pula mengirimkan video dirinya yang sedang mandi.
[Mas Robert sudah menikah?]
[Sudah, tapi kami LDR] aku menjawab asal.
[Oh, gitu. Sari juga bersuami, tapi suamiku stroke dan impoten]
Apa? Stroke? Impoten? Aku makin penasaran dan menyelidiki lebih dalam.
[Kok bisa? Kenapa gak cerai aja?]
[Mana mungkin aku meninggalkan dia? Sementara harta nya melimpah hahahahaha]
[Jadi, bagaimana kamu menyalurkan hasratmu? Bukankah kamu masih muda?]
[Ya, Mas. Ada banyak jalan menuju Roma hehehehe]
Seperti paham maksudnya, aku mulai mengetik kalimat penggoda.
[Aku mau dong lihat lebih lagi koleksi videomu yang lainnya.]
[Video aku yang main atau orang lain?]
[Kalau bisa video kamu, ya kamu yang jadi pemerannya. Pasti seru.] Aku menjawab asal lagi. Berharap sesuatu yang bisa dijadikan bukti untukku.
[Sebentar ya, aku cek dulu.]
[Oke]
Sambil menunggu, aku menyalakan smartphone milik Mas Dony, mencoba memasukkan kode pin yang ku ingat sebagai akses untuk masuk. Aku membuka aplikasi hijau miliknya, berharap menemukan sesuatu. Benar sekali, aku menemukan chat terakhir Mas Dony dan Sari dua hari yang lalu, yang belum sempat terhapus oleh Mas Dony, mungkin karena terburu-buru pulang sewaktu aku pingsan.
Oh iya, sewaktu aku pingsan ternyata ada Pak RT yang menolongku. Pak RT hendak mengirim undangan rapat bapak-bapak, karena dilihatnya kaca jendela masih terbuka dan melihat aku yang pingsan langsung segera menghubungi suamiku. Makanya Mas Dony pulang dan membatalkan aksi membuat video selanjutnya dengan Sari, si perempuan sundal itu.
Aku melihat chat mereka yang bertengkar disana.
[Teganya kamu meninggalkan aku di hotel sendirian, Mas.]
[Kamu gila ya? Istriku pingsan!]
[Tapi aku butuh kamu.]
[Lain kali bukannya bisa? Atau kenapa kamu tidak sekalian bayar laki-laki yang kamu ceritakan itu? Bisa kan?]
[Aku sudah tergila-gila sama kamu, Mas.]
[Sudahlah, lebih penting istriku untuk malam ini.]
[Kamu jahat, Mas.]
[Aku sudah menyiapkan semuanya, lengkap dengan lingerie pilihanmu, bunga kesukaanmu, aromaterapi kesukaanmu juga gaya yang sudah kupelajari.]
Begitu chat mereka yang terakhir kalinya, dan semenjak itu pula Mas Dony tak menghubungi Sari, itu yang ku tahu. Di belakang ku? Mana kutahu.
Gila, sampai sedetail itu persiapan mereka? Apalah aku? Aku melewati malam-malam hangat bersama Mas Dony hanya menggunakan baju dinas malamku, tak ada yang lain.
Mengapa justru Mas Dony melakukannya bersama wanita sundal itu? Apa kurangnya aku? Apa aku tidak bisa menghadirkan suasana yang disebutkan Sari sebagai kesukaan Mas Dony? Ah sudahlah, ku tatap smartphone ku kembali.
Drrrrrrrt.....
Masuk pesan dari Sari, sebuah video.
Aku mencoba mengunduhnya. Sampai akhirnya 5menit kemudian video yang berdurasi 10menit itu berhasil masuk ke smartphone milikku. Aku terperanjat! Di video itu tampak nyata siapa aktor dan aktris nya, Mas Dony!!
Mas Dony dan Sari, mereka pemain film panas itu. Aku menangis, dan menuju ruang tamu. Agar Mas Dony tidak terbangun, aku putar sampai habis film itu.
Video itu, mengalahkan artis yang beberapa tahun lalu viral karena merekam aksi mesum mereka, bahkan si artis yang laki-laki berhasil masuk penjara. Ini, di depan mataku, aku melihat sendiri suamiku yang berperan disana. Berkali-kali aku mengusap airmataku dan memijat dadaku yang kian sesak. Ah teganya kamu, Mas!
Aku mencoba lagi menguatkan hati, untuk bertanya pada Sari.
[Siapa pria yang bersamamu? Hebatnya permainannya.]
[Dia Dony, pacarku. Aku mengenalnya di Facebook, kami sangat intim]
[Apa dia lajang?]
[Beristri, dan memiliki anak satu. Baru kemarin istrinya keguguran.]
[Kok kamu bisa tau?]
[Dony sering menceritakan keharmonisan rumahtangganya. Jadi aku tahu betul semuanya.]
[Kamu mau apa dari si Dony?]
[Sebenarnya di awal aku hanya menginginkan tubuhnya. Entah mengapa sekarang aku menginginkan Dony seutuhnya.]
[Maksud kamu?]
[Coba kamu bayangkan jadi aku, Robert. Suamiku impoten, stroke dan diabetes. Dia tak bisa memuaskan ku! Dony? Dia hadir dan mampu membuat hasrat wanitaku memuncak.]
Aku tak membalas lagi pesannya. Kali ini dia terus mengirimiku foto mesra miliknya dengan Mas Dony, suamiku. Aku makin emosi, tampak Mas Dony menikmati semuanya. Tanpa memikirkan aku dan Ketyla. Airmataku menganak sungai, aku memutuskan untuk tidur di sofa, dan menyalakan DVD video pernikahan kami. Sampai akhirnya aku tertidur pulas sampai pagi menjelang.
"Dek," terdengar ada suara memanggilku.
"Hm..."
"Sudah pagi, Mas mau ke kantor."
"I-iya. Jam berapa sekarang?"
"Sudah jam 7 pagi, Dek. Sarapan sudah aku siapkan di meja makan, juga susu dan obatmu. Mas berangkat dulu ya? Kamu bisa ditinggal kan?"
"Iya, Mas. Kamu berangkat aja."
"Matamu sembab, kenapa?"
"Gak apa-apa, mungkin karena kurang tidur."
"Ya sudah, kamu istirahat aja. Nanti Mbak Rasti kesini antar Keyla."
"Iya, Mas. Hati-hati."
Aku menuju toilet, dan mandi membersihkan diriku. Kucuran air dari shower membuatku semakin bersedih, menangisi suamiku. Yang sudah memporak-porandakan kesucian ranjang rumahtangga yang seharusnya boleh diteguk hanya oleh kami berdua. Dia sudah menodainya. Aku berteriak di derasnya kucuran air. Menangisi diriku, menyedihkan sekali.
Aku bukan tak mau melabrak Sari ataupun Mas Dony, namun suara hatiku mengatakan aku harus menyelidiki dulu semuanya. Agar aku tahu keputusan apa yang akan aku ambil nantinya. Apakah aku harus berpisah dengan pria yang aku cintai atau harus bertahan namun menyelesaikan masalah dengan Sari nantinya.
Next...
0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 4)"
Post a Comment