Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 10)




#Aku_Menemukan_Video_Call_Sxx_di_Gawai_Suamiku (Part-10)
#AMVCSDGS10

Share dulu biar yang lain bisa ikutan membaca, ya? ❤️❤️❤️ jangan lupa tinggalkan komentarmu disini dan kasih apresiasi lewat likes πŸ‘ dan loves ❤️

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

POV1
Sari Anggraeni

2009

"Alhamdulillah, sah ya ibu-ibu, bapak-bapak?"

"Sah." Semua kompak menjawab pertanyaan sang penghulu.

Kedua pengantin pun tampak bahagia, meskipun pengantin laki-laki terlihat lebih tua dibandingkan pengantin perempuan. Perempuan muda itu aku, Sari Anggraeni, dan laki-laki yang lebih dewasa itu bernama Broto Raharjo, keturunan ningrat yang kekayaannya melebihi walikota di kota kelahirannya.

Gedung megah nuansa serba berwarna putih menambah romantis pelataran pelaminan tempat kedua mempelai merayakan resepsi pernikahannya. Terlihat jelas wedding organizer yang dipakai pasti kelas mahal. Begitu pula dengan catering yang tersedia, sangat memukau tamu undangan yang hadir.

"Selamat ya, Sari?"

"Eh, makasih."

"Selamat ya, jadi nyonya bos nih!"

Atau yang lebih parahnya.

"Selamat, ya jadi istrinya aki-aki."

Memang pria yang menikahiku lebih tua dari usiaku. Aku menerima dengan ikhlas pernikahan itu, meskipun harus bersama pria dewasa yang beda dua puluh tahun denganku. Saat itu aku berusia 22 tahun, sementara Mas Broto berusia 42 tahun. Aku tidak peduli usia pria yang kini jadi suamiku itu, yang terpenting adalah aku menjadi nyonya Broto Raharjo, yang mentereng kekayaannya. Mobil berjejer, rumah banyak, perusahaan, toko meubel dimana-mana, belum lagi aset deposito.

Siapa yang tak akan tergoda, bukan? Mas Broto ditinggal istrinya yang meninggal setelah melahirkan anaknya, dan selang beberapa Minggu pula anak itu menyusul ibunya. Hal itulah yang semakin membuatku semangat menerima pinangannya. Kami berkenalan di sebuah diskotek di daerah Gajah Mada, Jakarta. Awalnya dikenalkan oleh seorang teman yang berprofesi advokat, aku senang bergaul dengan berbagai macam profesi, terutama bos.

Waktu itu awalnya hanya main-main, sekedar menyalurkan hasrat perempuanku yang over. Paham artinya over kan? Diluar jalur, aku melakukan frees*x dengan banyak laki-laki, tak peduli meskipun baru saja berkenalan. Asal sama-sama senang, aku tak masalah. Sampai akhirnya Mas Broto tertarik dan jatuh dalam perangkap ku. Sebelum terpikat, memang aku sudah menyervis luar biasa laki-laki yang kini tengah masih berstatus suamiku.

🌺🌺🌺

Mas Broto jatuh hati padaku, dan memintaku untuk menjadi istrinya. Oh, ya, sebelumnya aku operasi bagian intimku agar Mas Broto tidak curiga bahwa aku sudah main dengan pria lain. Waktu itu harga operasi selaput dara masih sekitar sepuluh jutaan, bukanlah harga yang mahal bagiku. Karena ketertarikan ku pada Mas Broto, aku lakukan tindakan operasi itu.

Aku seorang DJ di diskotek dan banyak uang tips yang diberikan pengunjung, apabila aku menemani mereka sekedar minum ataupun mengobrol biasa. Banyak juga sih, yang tertarik dan berminat membooking diriku. Namun yang pasti, aku pasang tarif tinggi, padahal yang bekerja keras si pria itu, aku hanya tinggal menikmati saja.

"Sari, kamu nggak mau berhenti jadi DJ?" Tanya Mas Broto.

"Maksud kamu?" Tanyaku berpura-pura, padahal aku tahu jelas maksud ucapannya.

"Aku mau menikahi kamu."

Hening sejenak.

"Aku akan melamarmu, kapan aku bisa bertemu orangtuamu?"

Aku tahu Mas Broto adalah orang kaya dan bos perusahaan ekspedisi yang sedang berkembang dari Leo, si advokat kenalanku. Jadi, setelah berpikir keras, aku memutuskan menerima lamarannya. Toh, sudah dipastikan aku tak perlu bersusah payah terjun di dunia malam sebagai DJ untuk menghasilkan uang. Setelah jadi istrinya pasti aku hanya akan berurusan dengan sumur, dapur dan kasur. Begitu ucapan teman-teman ku yang sudah lebih dahulu memutuskan untuk menikah di usia muda.

"Hmmm, baiklah. Aku menerima lamaran kamu, Mas. Tapi orangtuaku di Surabaya, apa mereka saja kita ajak kesini?"

"Jangan, kita aja yang kesana. Jadi kamu terima cintaku?"

"Ya, Mas."

Sampai akhirnya kami menuju Surabaya untuk meminta restu orangtuaku. Ternyata mereka menyetujuinya, dan meminta segera menggelar pesta pernikahan. Dan terjadilah pernikahan itu.

Di usia yang masih muda dan produktif, wajar jiwa mudaku masih sangat bergelora. Sementara Mas Broto biasa saja, mungkin efek sudah pernah merasakan manisnya malam-malam bersama mendiang istrinya dulu.

"Mas, kamu udah capek, ya?" Tanyaku pada suamiku saat malam penuh candu di malam pernikahan kami.

"Iya, nih. Istirahat yuk." Mas Broto memelukku.

"Mas, ayo dong. Sekali lagi aja, deh. Aku masih penasaran." Ucapku menggebu sembari mengusap punggung suamiku itu.

"Besok, ya? Aku janji. Aku mau minta ramuan herbal dulu, biar fit. Malam ini kita istirahat aja dulu, Sayang."

"Ya sudah, janji ya? Besok kita langsung honeymoon aja ya ke Bandung."

"Iya, aku turuti semua kemauanmu, ratuku."

Mas Broto memperlakukan aku memang seperti ratu, tidak mengijinkan aku memegang pekerjaan rumah. Semua ada yang mengerjakan, ada Bik Susan yang menjadi asisten rumah tangga di rumah Mas Broto.

🌺🌺🌺

Esoknya, kami pergi ke Lembang, Bandung. Kami memutuskan untuk menginap di Jingga Hotel, selama seminggu penuh dibooking suamiku itu.

"Mas, seminggu?" Aku meyakinkan Mas Broto saat melihat tagihan pembayaran dan bukti check-in selama satu minggu.

"Iya, biar kamu merasa nyaman dan senang di bulan madu kita ini. Aku akan mematikan handphone ku dan hanya memberikan perhatian buat kamu, Sayang." Mas Broto tak sungkan mengecupku meskipun terdapat banyak pasang mata memandang ke arah kami.

"Ayo, Bu, Pak, saya antar ke kamar." Ajak seorang bellboy sembari membawa koper kami.

"Iya, Mas." Jawab suamiku.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung melahap suamiku dengan penuh gelora. Mas Broto tampak kaget, namun mengikutiku. Dan kami sama-sama tak terkendali. Aku membawa salah satu video blue film untuk menghangatkan keadaan sebelum memulai ritual sakral sepasang suami istri yang sudah menikah.

"Sayang, aku capek. Kamu nggak capek?" Mas Broto kelihatan sudah lelah dan terlihat dari caranya bernafas. Sembari merebahkan tubuhnya di ranjang suci milik kami, meletakkan kepalaku di dadanya. Hangat, dan sangat romantis.

"Belum, Mas. Mau lagi ih. Ayo!"

"Kita makan dulu, ya? Baru nanti lagi, gimana?" Mas Broto mengajak ku makan malam.

Setelah selesai makan malam, aku kaget saat bellboy mengantarkan satu pack jamu herbal ke kamar kami.

Tok..tok..tok..!
"Permisi, Pak. Paket." Begitu ucapan bellboy itu.

"Sayang, Mas ambil paket dulu, ya?"

"Paket apa, Mas?"

"Kejutan, kamu tunggu aja, ya?"

"Ya, sebentar." Mas Broto mengambil paket itu dan tidak lupa untuk memberikan uang tips kepada si bellboy pengantar jamu herbal.

"Terimakasih, Pak." Jawab si bellboy itu.

Mas Broto membuka bungkusan itu lalu meminumnya.

"Apa itu, Mas?"

"Obat kuat lelaki, Sayang."

"Buat apa?"

"Buat imbangi permainan kamu, Sayang." Mas Broto langsung dengan sergap melahap cintaku untuk yang kesekian kalinya.

Mas Broto masih mengganggap biasa perihal kemauan naluri Perempuanku, menurutnya wajar bila pengantin baru masih panas-panasnya.

Di hari terakhir, barulah Mas Broto bertanya mengapa aku bisa seberingas itu bila malam datang.

"Maaf, Mas. Aku sepertinya nggak normal."

"Maksud kamu?"

"Iya, aku ada kelainan se*s, aku hyperse*s." Aku berusaha jujur.

"Kok kamu bisa tahu?"

"Aku tadi pagi baca artikel di internet perihal perasaanku ini, Mas. Di artikel itu dijelaskan kalau aku memiliki imajinasi juga fantasi yang tidak biasa."

"Aku suka sih, tapi memang capek. Bisa disembuhkan?"

"Nggak tahu, Mas. Kita nikmati saja dulu, ya? Kalau agak menggangu baru kita bicarakan lagi. Kamu enjoy kan dengan caraku memperlakukan kamu tiap malam?"

"Iya, Sayangku. Ya sudah, ayo kita pulang."

Kami sudah melewati seminggu penuh di Bandung, kami berjalan-jalan di Floating Market, Lembang lalu kamu mengitari semua tempat wisata disana. Hari-hari yang indah sebagai sepasang suami istri baru.

Di usia pernikahan yang ke-9 kami belum juga dikarunia anak, sudah coba program bayi tabung dan lainnya tetaplah tidak membuahkan hasil. Dari situlah, aku mulai selingkuh dan jalan dengan berondong. Bahkan dengan suami orang pernah juga. Aku menikmati kebersamaan ku dengan lelaki yang terpikat juga denganku.

Saat tengah asyik menikmati permainan perselingkuhan ku, Mas Broto justru terkena stroke ringan, diabetes lalu impoten. Ini makin membuatku gila, bayangkan saja satu tempat tidur, namun tidak terjadi apa-apa di setiap malamnya. Hambar bukan? Bukan aku tidak bersyukur, dan tidak menerima takdir. Tapi memang mengurus orang sakit itu tak mudah, sangat banyak cobaannya. Aku tak mampu untuk bersabar. Aku pernah meminta bercerai, namun Mas Broto tak mau. Alasannya adalah, ingin diurus olehku sampai ia berpulang alias meninggal dunia.

Justru posisi bergelimang harta namun tidak digauli suami semakin membuat posisiku sebagai seorang wanita dewasa makin menyakitkan. Aku sibuk mengurus perusahaan suamiku dan usaha lainnya, sementara aku menyewa orang dari yayasan penyalur pengurus jompo untuk mengurus suamiku. Seperti babysitter, namun ini mengurus orang dewasa. Cukup membantuku dengan kehadiran Mbak Ipah, jadi aku bisa leluasa bergaul dengan banyak lelaki.

Sampai suatu hari, aku berkenalan dengan Dony Sebastian di anak perusahaan suamiku. Dony, seorang staff operasional muda, bergaya kasual dan menantang. Parasnya sangat tampan, membuatku terpikat olehnya. Kami berkenalan dan bertukar akun aplikasi biru, media sosial di internet.

Kami sering bertemu, dan semakin lekat lagi, semakin intim. Sampai akhirnya kami saling terbuka dan memiliki banyak kesamaan. Kesamaan yang paling menonjol adalah kami sama-sama haus akan gelora api cinta yang membara di atas ranjang. Kami sama-sama hyper dalam hal itu.

Awalnya aku tak tahu jika dia sudah menikah, namun setelah Dony jujur sudah menikah, hal itulah yang membuat aku takut jika suatu hari nanti aku akan ditinggalkan olehnya.

Semakin dia bisa membuat aku bahagia dan menyenangkan hatiku, aku semakin memberinya kesenangan lainnya. Kami sering menonton blue film rating usia dewasa, yang mempertontonkan gaya baru dalam permainan mencetak gol tersebut. Bahkan kami belajar bersama dan mempraktekkannya.

Tak segan bila kami berjauhan, kami melakukan video call yang lebih dalam. Tanpa busana, dan mengucapkan kata-kata mengandung umpan berbau racun. Dony memiliki hobby mengoleksi fotoku mengenakan aneka lingerie yang ku beli sesuai keinginannya. Koleksi lingerie ku puluhan. Aku menamakannya 'baju dinas malam' jika hendak memberikan kode untuk bertemu.

[Kirim yang lebih hot ya? Ini masih biasa aja.] Dony sering mengirim pesan begitu, apabila foto yang dimintanya tidak sesuai harapannya.

[Terus gimana, dong, beb?]

[Pakai yang motif macan, belahan rendah dan yang berenda itu.]

Aku memakainya lalu mengirim kembali pada Dony.

[Begini?] Tanyaku sembari menyisipkan foto.

[Iya, aku suka ini. Jadi pengen cepat eksekusi.]

[Malam ini, yuk?]

[Oke, meluncur. Tempat biasa, ya?]

Dan banyak dosa lainnya, itu hanya beberapa. Tapi kami menikmatinya, semua berubah saat aku mengutarakan ingin memiliki Dony sepenuhnya dan beroisah dengan Mas Broto.

"Jangan gila, kamu!" Ucap Dony.

"Aku serius, aku mau kamu. Please. Cuma kamu yang mengerti kondisiku."

"Aku sudah beristri. Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini lagi."

"Aku mau kamu ceraikan istri kamu."

"Tidak mungkin! Sudahlah, kita seperti ini saja. Tak masalah buatku."

Dan aku pun mengalah, untuk tidak membahas ini lagi namun menyusun strategi untuk memberi kejutan pada istri Dony. Aku terpaksa karena cintaku membara pada Dony, sehingga aku mengajak pertemanan istri Dony di akun jejaring sosial milikku.

Next...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Menemukan VCS di Gawai Suamiku (Part 10)"

Post a Comment