Aku Mencintainya Dalam Luka



#Aku Mencintainya Dalam Luka

“Ijinkan aku menikah lagi”. Pinta suamiku dari seberang sana melalui telepon seluler.

Bak suara petir yang menggelegar membuat aku gemetar dan hampir saja gawaiku terlepas dari genggaman. Ini permintaan yang kesekian kali darinya, dan kurasa aku tak perlu memberi jawaban. Aku tahu iya atau tidak jawabanku, aku tak kan bisa mencegah penghianatan itu.

Sudah hampir dua tahun suamiku bekerja di luar kota. Bukan karena tidak mendapat pekerjaan di sini. Dulu dia bekerja sebagai satpam disalah satu bank swasta yang ada di kotaku. Meski penghasilannya pas-pasan, aku sangat bersyukur atas rejeki yang diberikan Allah pada kami.

Aku harus pandai-pandai mengatur uang yang diberikan oleh suamiku setiap bulannya.
Untuk menjaga dapur tetap mengepul, aku harus pandai mengatur menu yang sederhana namun nikmat untuk dinikmati keluarga kecil kami, terutama suamiku.

Setiap habis sholat shubuh, aku sudah berjibaku di dapur kecil kami, untuk menyiapkan sarapan buat kedua anak kami, dan buat suamiku tentunya.

Jangan tanya Kenapa aku tidak begitu memperdulikan penampilanku. Baju yang kupakai itu-itu saja. Aku tidak pernah tau produk make up apa yang bagus buat wajahku, model baju apa yang lagi hits buat mempercantik penampilan wanita saat ini.

Yang ada dalam otakku hanya bagaimana suami dan anak-anakku bisa makan dengan nikmat ,uang sekolah bisa terbayar dan segala kebutuhan-kebutuhan primer lain bisa terpenuhi. Bahkan untuk membantu keuangan keluarga ,aku menjadi buruh cuci tetanggaku dengan upah ala kadarnya.

Diusia pernikahan kami yang ke 15 tahun, aku mulai merasakan perubahan dari sikap suamiku. Kata-kata kasar sudah biasa keluar dari mulutnya. Namun demi cinta dan baktiku padanya , aku berusaha untuk tetap tersenyum dan sabar.

Sampai suatu ketika ada seorang wanita yang datang kerumahku, dia mengaku sudah menikah dengan suamiku. Betapa hancur rasanya hidupku.Entah apa kurangnya aku dimatanya. Aku selalu melayani dan memanjakan dia. Bagiku tak mengapa walau penampilanku seperti pembantu, yang penting suamiku rapi dan wangi.

Ditengah rasa hancurku ,aku pun meminta agar suamiku memilih salah salah satu dari kami. Menceraikan aku atau menceraikan dia. Walaupun dalam hati aku takut, takut jika benar-benar suamiku akan membuang aku dari hidupnya.Bagaimana jadinya nasibku dan anak-anak jika sampai terjadi.

Aku lalu menghubungi keempat saudaraku meminta solusi dari permasalahan keluar kami. Kedua abangku lalu menyidang suamiku. Meminta ketegasan darinya bagaimana solusi selanjutnya. Suamiku lalu berjanji akan menceraikan istri barunya dan dia bersumpah untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Akhirnya kami bersatu kembali. Mencoba merajut rasa kepercayaan yang sudah hampir hilang. Aku mencoba memaafkan suamiku, rasa cintaku masih sangat besar untuknya.

Satu tahun berlalu, entah apa sebabnya, suamiku resign dari pekerjaannya. Dia mencoba untuk mencari peluang kerja diluar kota. Demi penghasilan yang lebih besar katanya.

Kemudian suamiku bekerja menjadi driver ojek online. Kami berpisah pulau karena beda Provinsi. Aku dikalimantan sedangkan dia di Surabaya. Perekonomian kami bukannya semakin membaik karena harus membiayai dua dapur yang harus tetap mengepul.

Sampai suatu ketika suamiku kembali lagi ke Kalimantan karena menderita sakit. Aku merawatnya sampai sembuh dengan kasih sayang sebagai seorang istri.

Setelah suamiku sehat kembali, dia pun berencana kembali untuk bekerja keluar kota. Aku pun merestui keinginan suamiku, karena kami pun perlu biaya untuk hidup.

Kali ini suamiku bekerja di perkebunan sawit di luar kota. Beberapa bulan tinggal di mess perkebunan, suamiku merasa tidak sanggup hidup dan mengurusi kebutuhannya sendiri. Dia memerlukan aku untuk mengurusi makan dan pakaiannya agar tetap selalu rapi dan wangi.

Satu bulan aku tinggal di mess bersama suamiku, aku tak sanggup untuk bertahan di sana. Selain sikap suamiku yang semakin kasar padaku, aku pun rindu dan bimbang dengan anak-anakku di rumah.

Kedua anak kami tidak kami bawa karena mereka masih sekolah, jika dipindahkan pun tidak ada sekolah yang jaraknya dekat dengan mess kami.

Aku harus memilih antara mengurus suami atau anak-anak. Sungguh pilihan yang berat bagiku dan akhirnya aku memilih untuk pulang kerumah mendekap kembali anak-anakku.

Setelah aku kambali kerumah, aku merasa bulan demi bulan suamiku semakin jarang menelpon kami. Bahkan kemudian dia tidak lagi menghubungi kecuali aku yang menelpon duluan. Dia semakin asing terhadapku.

Aku pun berbagi cerita kepada adik dan kakak perempuanku. Mereka curiga kalau suamiku ada main cinta dengan wanita lain disana. Namun aku tidak mempercayai firasat kedua saudaraku. Bukankah dia pernah berjanji dan bersumpah didepan kedua abang-abangku?.

Sampai suatu ketika dia tiba-tiba menelponku meminta aku mengijinkan dia untuk menikah lagi disana. Wanita mana yang rela suaminya menikah lagi?. Tapi seperti yang kukatakan diawal , iya atau tidak, penghianatan itu pasti dia lakukan.

Ketika anak pertamaku lulus SMA, dia meminta ijin padaku untuk bekerja di tempat ayahnya bekerja. Katanya dia sudah menghubungi ayahnya, dan sudah ada pekerjaan yang sudah disiapkan untuknya.

Sampailah tiba saat keberangkatan anakku,untuk menjumpai ayahnya di perkebunan. Dengan berat hati aku lepas buah hatiku, diiringi doa semoga selalu dalam lindungan dan dekapan Allah selama di sana.

Satu bulan anakku bekerja di sana, dia menelponku dan mengabari bahwa dia akan pulang kerumah. Dia bilang tidak sanggup bekerja di sana dan tidak tega meninggalkan aku berdua dengan adiknya.

Dua hari kemudian dia sudah berada dalam dekapanku kembali. Dengan berat hati dia bercerita ,sebenarnya bukan karena pekerjaan yang membuat dia pulang kerumah kembali, tapi karena dia tidak sanggup melihat ayahnya sudah hidup dengan wanita lain dalam satu atap.

Aku terhenyak, menangis dalam hati, diam seribu bahasa. Aku tak mau menangis di depan anakku. Aku harus kuat dan tegar di depan mereka. Aku tumpahkan semua air mata dan sesak didada ketika malam saat aku sendiri. Oh...Tuhan, betapa malangnya nasibku dan anak-anakku.

Next atau tidak?

Pontianak, 5 Maret 2020
Jumiati Syahna

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Mencintainya Dalam Luka"

Post a Comment